Garapan Komplit Persembahan Topeng Prembon Denpasar

Denpasar Seni Budaya
Foto: Persembahan Topeng Prembon Denpasar.

DENPASAR, Kilasbali.com – Ini paling bagus, paling komplit dan semuanya ada. Pujian ini terlontar dari pengamat seni, I Made Djimat terhadap garapan Topeng Prembon Denpasar yang tampil pada Kamis (11/7/2019) di Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya, Denpasar.

Siang hari di Kalangan Ratna Kanda panas matahari amat menyengat kulit. Namun, panasnya cuaca tersebut tak menghalangi penonton untuk menyaksikkan garapan Topeng Prembon Sekaa Topeng Prakanti Swara Jaya, Banjar Peninjoan, Desa Peguyangan Kangin, Denpasar Utara.

Sebagai penampil terakhir dalam Parade Topeng Prembon, Denpasar tampil dengan apik. Bagi I Made Djimat yang merupakan salah satu Tim Pengamat Parade Topeng Prembon bahwa penampilan Denpasar telah menyasar pada pakem-pakem Topeng Prembon. “Seperti ini lah pakemnya, ada topeng keras, topeng tua, komplit,” ujar Dijmat.

Tak hanya pakem, dari segi humor dan cerita, Denpasar mampu menghadirkan tontonan dan hiburan sebagai pelengkap yang pas terhadap garapan bertajuk Samuan Tiga tersebut.

Samuan Tiga sendiri mengisahkan tentang proses Mpu Kuturan menyatukan berbagai sekte yang dulu meraja rela di Bali. Penyatuan inilah yang membentuk Samuan Tiga, di mana proses penyembahan berdasarkan Kahyangan Tiga.

Menurut koordinator garapan, Kadek Aryadi Wijaya, garapan ini memberi pesan terhadap fenomena berbagai sekte yang terlalu mengagung-agungkan kelebihan. “Pesan kami secara khusus golongan apapun, mari kita menjadi satu kesatuan. Sehingga apa yang kita inginkan bisa damai tanpa mempermasalahkan golongan golongan atau sekte,”ungkap Aryadi serius.

Kisah nan bijak tersebut diterjemahkan dalam garapan Topeng Prembon yang diperankan oleh seniman mudah Desa Peninjoan. Pujian yang datang dari I Made Djimat, tak lepas dari usaha mereka untuk berlatih dengan giat selama tiga bulan.

“Dengan porsi dan ketentuan yang sudah berlaku, Astungkara sampai sekarang sudah tercapai apa yang kami harapkan terhitung,” jelas Aryadi.

Dalam garapan tersebut, setiap pemeran telah memiliki porsi yang pas dalam setiap babakan cerita. Humor yang disajikan pun tidak mengandung unsur porno.

Dalam berproses, Aryadi pun mengungkapkan terdapat proses seleksi sehingga para penampil adalah pribadi yang siap belajar dan tampil. “Topeng Prembon nika ada pakem-pakem khas yang sulit dipelajari dan kami bersyukur diberikan kesempatan untuk belajar dan memahami Topeng Prembon,” jelas Aryadi.

Kedepannya, baik Aryadi maupun para seniman muda di Desa Peninjoan tetap ingin melestarikan kesenian Topeng Prembon baik di wilayah banjar, Denpasar, dan Provinsi Bali. (kb)