Gerah Dijejali Sampah Kiriman, Nelayan Gumicik Lakukan Ini

Gianyar Sosial
Foto : Nelayan Gumicik memunguti sampah kiriman.
  • Pelantikan Bupati Jembrana

  • Pelantikan bupati tabanan 2021
  • Pelantikan bupati tabanan 2021
  • Pelantikan bupati tabanan 2021

GIANYAR, Kilasbali.com – Pantai Gumicik Ketewel, Sukawati yang memiliki muara sungai Campuhan Windhu Segara, juga tidak luput dari kiriman sampah di musim penghujan ini. Kondisi ini pun membuat wajah pantai tampak kumuh.

Para nelayan setempat pun tidak mau tinggal diam melihat rumah keduanya penuh sampah. Dengan membentuk kelompok peduli sampah, setiap minggu mereka pun mewajibkan untuk menggelar aksi pungut sampah.

Dari keterangan salah seorang warga Pantai Gumicik, I Wayan Puja, di wilayahnya yang memiliki muara sungai juga tidak luput mendapat sampah kiriman, sebagaimana pantai lainnya.

Baca Juga:  Pokdarwis Bumdes Baturiti Tukar Sampah Plastik dengan Beras

Kondisi pula selalu mengusik  perhatian kelompok nelayan Pantai Gumicik. Apalagi di musim hujan, volume sampah meningkat tajam.

Atas kondisi ini, kelompok nelayan ini akhirnya membuat kelompok peduli sampah, sebagai gerakan sosial yang anggotanya nelayan dan pemuda Banjar Gumicik dan pemuda Desa Sukawati.

“Muara pantai kami selalu kotor, sering dikeluhkan warga yang berkunjung. Atas keluhan ini, kami prakarsai membuat kelompok peduli lingkungan dengan nama Kopling Ketewel,” ungkap Puja.

Disebutkan, gerakan ini sudah melakukan kegiatan lebih dari  60 kali dengan intensitas setiap minggu. Dalam kegiatan disebutnya rata-rata sampah non organik sebanyak 12 kampil (kantong beras ukuran 50 kg).

Baca Juga:  Kabar Baik, Pasien Sembuh Meningkat Tajam

Bahkan pernah mendapatkan sampah sampai 40 kampil yang terdiri dari sampah pakaian bekas, sandal, botol plastik, dan popok bayi.

“Yang membuat prihatin, adalah sampah pampers dan pembalut yang dibuang ke sungai. Karena kerap dibawa anjing liar, sampai ke pemukiman, sehingga pemandangan tambah jorok,” tuturnya.

Lanjutnya, sampah plastik yang dikumpulkan terpisah dibawa ke Bank Sampah Ketewel dan sampah residu dibawa ke TPA Temesi. Sedangkan sampah organik, dikumpulkan dijadikan pupuk organik oleh salah satu warga.

Baca Juga:  DP3AP2KB Gelar Sosialisasi Desa/Kelurahan Layak Anak Tahun 2021

“Kami ini gerakan non profit, hasil penjualan kami belikan peralatan pungut sampah, seperti kampil, sarung tangan dan masker,” tambahnya.

Dengan gerakan tersebut, menurutnya Campuhan Windhu Segara sudah mulai bersih dan hanya mendapat sampah kiriman dari sungai Yeh Ayung.

Besar harapan dia, warga di hulu lebih sadar untuk membuang sampah dengan baik, sehingga muara sungai tidak kotor oleh sampah. (ina/kb)