Hadapi Era Revolusi Industri 4.0, Wagub Cok Ace Minta Generasi Milineal Utamakan 3 Kapasitas Hidup

Denpasar Pendidikan
Foto: Wagub Cok Ace saat menghadiri seminar nasional di Universitas Dwijendra.

DENPASAR, Kilasbali.com – Orang Bali sudah sejak dulu memiliki keyakinan dan pengabdian yang kuat terhadap Hyang pencipta. Hal ini diperlihatkan dari budaya dan ritual Hindu Bali yang sarat akan nilai-nilai luhur. Namun seiring berjalannya waktu, masuknya pariwisata sejak tahun 1970-an, Bali mulai mengalami akulturasi dan modifikasi seni dan budaya Bali.

Pada era disrupsi, seluruh kegiatan ekonomi akan bergerak menuju digitalisasi. Dimana arah perkembangan ekonomi masa depan akan bertumpu pada ekonomi digital yang mengedepankan dua (2) elemen utama, yaitu pasar dan bakat.

Era disrupsi 4.0 adalah masa dimana informasi dan teknologi berkembang pesat dan digunakan sebagai bagian kehidupan sehari-hari. Sehingga diperlukan pengembangan dan penguatan tiga (3) kapasitas hidup masyarakat khususnya generasi milineal yang bertumpu pada rasa keingintahuan mengenai perkembangan teknologi informasi.

“Setelah itu kita harus bisa mengakses teknologi informasi dengan ketersediaan fasilitas dan infrastruktur yang mumpuni, sehingga kedepannya kita semua mampu menggunakan teknologi informasi untuk kehidupan sehari-hari,” kata Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati saat menjadi pembicara dalam seminar nasional arsitektur, budaya dan lingkungan binaan di Fakultas Teknologi, Universitas Dwijendra, Denpasar, Sabtu (10/8/2019).

Menurutnya, pengembangan dan penguatan ekonomi, sosial, budaya dan spiritualitas diterjemahkan melalui visi pembangunan Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” yakni Atma kertih, Jana kertih, Wana kertih, Segara kertih, Danu kertih dan Jagat kertih, sehingga sistem kerja yang berlaku akan terintegrasi sekaligus interaksi antara masyarakat, pemerintah dan pebisnis akan terkorelasi dengan baik pula.

Rektor Universitas Dwijendra Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.MA., mengatakan dengan menghadirkan narasumber yang sangat berkompeten di bidangnya, seminar ini dapat memberikan pengetahuan dan wawasan yang berkaitan dengan pembangunan berbasis arsitektur.

Sementara itu Ketua Yayasan Dwijendra Denpasar Dr. I Ketut Wirawan, S.H.,M.Hum., berharap agar arsitektur di Bali dapat berkembang sesuai pakem-pakem yang ada. Pihaknya juga berpendapat agar gaya arsitektur yang dahulu tidak diubah seenaknya mengikuti perkembangan sekaran.

“Jangan menghilangkan sejarah yang ada sejak dahulu. Jadi kearifan lokal harus dipertahankan,” tegas mantan Rektor Universitas Dwijendra ini.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Universitas Dwijendra Frysa Wiriantari S.T.,M.T., mengungkapkan seminar ini berangkat dari kompleksnya tantangan pada era revolusi indutri 4.0 terhadap nilai-nilai seni dan budaya dalam proses pembentukan lingkungan binaan.

“Maka seminar bertujuan menemukenali pola-pola lingkungan binaan maupun pola seni dan budaya yang berperan aktif dalam proses pembentukan lingkungan binaan pada era revolusi indutri 4.0 ini,” ungkapnya

Dalam acara itu, juga hadir sebagai narasumber dalam semeninar, Titien Saraswati dosen dari Universitas Kristen duta Wacana dan I Ketut Siandana dari Sian D’sain, serta peserta seminar lainnya. (rls/kb)