Inspiring Talk di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Buleleng Pendidikan
Inspiring Talk di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

BULELENG, Kilasbali.com – Koordinator Staf Khusus Presiden RI, AAGN Ari Dwipayana menjadi pembicara kunci pada Talk Show yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Agama Hindu Mpu Kuturan Singaraja pada Jumat (11/9/2020).

Dalam talk show yang bertema Peran Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu Dalam Mewujudkan SDM Unggul Menuju Indonesia Maju yang diselenggarakan serentak secara off line dan online ini (melalui platform zoom), dihadiri lebih dari 500 peserta.

Disrupsi adalah Keniscayaan

Dalam Talk Show yang dipantik Ida Bagus Wika Krishna, S.AG.MSi, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan STAHN Mpu Kuturan, disampaikan berbagai pemikiran inspiratif untuk mendorong peningkatan kualitas SDM Hindu, sehingga dapat meningkatkan peran dan kontribusi bagi kemajuan umat dan kemajuan Indonesia.

Talk show diawali paparan Ketua STAHN Mpu Kuturan DR. I Gede Suwindia, S.AG,. MA. Dalam presentasinya, Suwindia menyampaikan pentingnya kesadaran Lembaga Pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi Hindu untuk menyadari dan berani “mendiskrupsikan diri”, dan keluar dari zona nyaman. Menyadari kondisi tersebut, STAHN yang dipimpinnya menjadikan pandemic Covid-19, sebagai batu loncatan untuk mempercepat segala aktivitas kampus yang berbasis teknologi informasi, peperless.

Baginya kemampuan adaptasi sangat penting dan menjadi kunci bagi terciptanya SDM Unggul. Selain itu juga dibutuhkan kolaborasi, saling mendukung satu-sama lain agar bisa menjadi kekuatan yang luar biasa. Saat ini siapa yang cepat akan mengalahkan yang lambat. Dan upaya yang sungguh-sungguh dari sekelompok orang atau institusi dapat meruntuhkan institusi besar, jika memiliki konsep yang mampu menusuk langsung ke jantung kompetitor, seperti apa yang sekarang banyak terjadi dalam bisnis yang menjadikan Teknologi Informasi sebagai engine-nya.

Baca Juga:  TMMD Kodim 1611/Badung, Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Selanjutnya Ari Dwipayana menyampaikan pentingnya kehadiran “pemikiran besar”, yaitu pemikiran visioner yang melompat melampaui jamannya. Pemikirian besar tersebut akan mampu menggerakkan banyak orang untuk mengikuti apa yang difikirkan. Jika ingin maju, maka kehadiran “pemikiran besar” dan juga jalan perubahan untuk mewujudkannya sangat dibutuhkan ketika ingin mencapai kemajuan , termasuk dalam pengembangan Pendidikan Tinggi Hindu.

Baca Juga:  Aparat Keamanan Bersinergi Bergerak ke Pelosok Desa Lakukan Operasi Yustisi Cegah Penyebaran Covid-19

Revolusi Kebudayaan

Ari memberikan banyak contoh keberhasilan berbagai bangsa dan peradaban didunia dalam mendorong perubahan yang dimulai dari revolusi kebudayaan dan perubahan etika yang terkait dengan perubahan mentalitas dan karakter. Konsep tersebutlah yang disebut Presiden Joko Widodo sebagai Revolusi Mental.

Perubahan mentalitas dan karakter ini seringkali tidak disadari urgensinya oleh Lembaga Pendidikan.

Lembaga Pendidikan seringkali berhenti pada tujuan untuk mencetak orang-orang yang bisa bekerja saja atau mengisi slot-slot kebutuhan tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar, hingga melupakan tujuan besar untuk menghasilkan orang-orang yang punya mentalitas, karakter dan jiwa merdeka.

Ari juga menekankan pentingnya pemikiran-pemikiran kritis, atau daya kritis untuk mempertanyakan pengetahuan yang akan sangat bermanfaat bagi pengembangan pengetahuan itu sendiri.

Selanjutnya juga dibutuhkan inovasi, kreativitas untuk menghadapi kompleksitas dan persaingan yang jauh lebih berat di masa yang akan datang.

Baca Juga:  Pemerintah Inggris Dukung Bali Atasi Pendidikan Daring

Dan terakhir Ari Dwipayana menekankan soal nilai kolaborasi. Karena dalam mencapai kemajuan sangat dipentingkan kolaborasi bukan semata-mata kompetisi

MoU STAHN dan Yayasan Puri Kauhan Ubud

Selain Talkshow pada acara tersebut, Ari Dwipayana selaku Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud juga menandatangani Kesepakatan Kerjasama (MoU) dengan STAHN Mpu Kuturan.

Kerjasama ini terkait dengan upaya kedua belah pihak untuk melakukan pelestarian dan pengembangan lontar milik Puri Kauhan Ubud, serta menggali kembali nilai dan ajaran penting yang tertulis dalam lontar dan dimanfaatkan sebagai referensi atau solusi persoalan hari ini.

Langkah-langkah untuk mengedukasi masyarakat agar lebih peduli dan mau merawat lontar yang merupakan harta karun tak ternilai juga menjadi bagian dari kerjasama ini.

Pada akhir acara, Ari menyerahkan bantuan 10 ribu masker kepada STAHN Mpu Kuturan untuk disebarluaskan kepada masyarakat sebagai upaya penanganan penyebaran Covid-19. (anm/kb)