Jero Bima : Nyepi di Tengah Pandemi Semakin Memperat Persaudaran

News Update
Foto : Ketut Putra Ismaya Jaya

DENPASAR, Kilasbali.com – Jelang Nyepi 1943 pada Minggu 14 Maret 2021 di era pandemi, jelas membuat perayaan Nyepi yang berbeda. Karena Tahun Baru Saka 1943 semakin terasa sepi. Sepi dari pendapatan, sepi perputaran ekonomi, bahkan sepi akan pawai ogoh-ogoh. Hal tersebut diungkapkan oleh Jero Tapakan, Ketut Putra Ismaya Jaya alias Keris.

Menurutnya, perayaan Nyepi kali ini sangat berbeda dengan tahun-tahun yang sebelumnya dilihat dari tahun lalu 2019. Nyepi tahun lalu baru mengalami pandemi dan dampaknya pun belum terasakan, sedangkan Nyepi di Tahun 2020 dampaknya sangat luar biasa yang dirasakan masyarakat Hindu Bali maupun nusantara.

Ismaya merasakan kondisi Nyepi Tahun Baru Saka 1943 tidak ada apapun yang berkesan, hal ini disebabkan kondisi keuangan masyarakat Bali yang bisa dikatakan sedang mengalami penurunan cukup drastis, bahkan sampai ada yang minus.

Beda dengan Nyepi pada tahun-tahun sebelum. Orang-orang biasanya ada yang menikmati suasana Nyepi di villa maupun di hotel, kalau sekarang sudah dipastikan banyak masyarakat Bali merayakan Nyepi di rumahnya.

Baca Juga:  Jaya Negara Harap IDI Berikan Pelayanan Maksimal Pada Masyarakat

“Di Nyepi kali ini mengajak kita untuk mengintropeksi diri lebih dalam untuk melakukan mulat sarira dimana Nyepi sebelum pandemi segala sesuatu dimudahkan, tetapi Nyepi kali ini segala sesuatu menjadi berkurang,” ujarnya ketika dihubungin via selular pada Jumat (12/3/2021).

Ismaya yang juga pendiri Yayasan Keris menjelaskan, dampak pandemi bahkan terasa sampai kekalangan pejabat maupun politisi serta mereka yang berkerja di pariwisata dimana mereka yang mempunyai pemasukan tetap perbulannya, diera pandemi menjadi berkurang.

Maka pihaknya mengajak masyarakat untuk tetap eling akan kondisi saat ini dimana masyarakat harus mengikuti aturan yang buat, bahkan kegiatan pun banyak dilarang seperti ogoh-ogoh dilarang, melasti dibatasi, artinya dengan kehadiran umat yang sedikit makna upacara tetap bisa berjalan.

“Kalau tidak ada ajaran covid mungkin kita lupa mulat sarira, eling tidak memyombongkan diri maupun jabatan yang akhirnya di era covid mereka yang merasa memiliki jabatan harus menjadi petani di kampungnya. Disinilah Tuhan mengajak kita untuk menjadi lebih peka bagaimana rasa kita bersaudara dengan eling kepada leluhur, keluarga, kampung,” ucapnya.

Lanjut Ismaya, adanya pandemi banyak mengajarkan umatnya untuk lebih bijak lagi dalam memilah dan memilih, kemarin-kemarin banyak orang pintar yang mengatakan virus covid-19 akan hilang pada sasih kesanga, bahkan ada beberapa orang yang mengatakan bahwa virus covid-19 datang dari hewan, bahkan sampai ada salah satu bumbu dapur dapat mencegah penyebaran virus, tetapi kenyataan tetap saja virus tersebut merajalela.

Baca Juga:  Update Penanggulangan Covid-19, Sabtu 17 April 2021

Disinilah alam mengajarkan umat untuk jangan pernah melangkahi alam, dan tetap melaksanakan Tri Hita Karana hubungan manusia antar tuhan, hubungan manusia sesama manusia, hubungan manusia dengan alam.

Ismaya melanjutkan disaat pandemi yayasan Keris hadir di Bali membuat pihaknya bersama anggotanya semakin melaksanakan konseo Tri Hita Karana terutama pada hubungan manusia dengan manusia, ketika ada anggota keris maupun masyarakat Bali yang terkena dampak pandemi pihaknya membagikan sembako, ketika ada anggotanya mempunyai anak tidak bersekolah maka pihaknya akan mengajak anggotanya untuk melakukan urunan biar anak tersebut bisa sekolah.

Baca Juga:  Made Muliawan Arya Nahkodai Pertina Bali

Bahkan yayasan Keris tidak segan-segan untuk mendonorkan darah untuk penyelamat dan penyatu umat manusia, tanpa membedakan agama lain untuk membantu sesamanya.

“Kami semakin mengerti yayasan Keris lahir ditengah pandemi, untuk tetap terus berbuat tulus kepada masyarakat Bali tanpa mengharapkan kebalikan,” paparnya.

Tambahnya Ismaya, pihaknya tetap sangat berharap kepada pemerintah Bali dalam rangkaian barata penyepian untuk tidak menghilangkan kreasi anak muda hindu Bali.

“Saya harap kreasi anak muda disaat Nyepi tetap bisa berjalan tetapi tetap harus dengan menerapkan prokes agar dapat berjalan dengan baik,” pungkasnya.(dx/kb)