KEREN!!! Selama 2 Bulan Warga Pejeng Gratis Iuran Air Desa

Gianyar
Foto : Perbekel Pejeng Tjok Gede Agung Kusuma Yuda.

GIANYAR, Kilasbali.com – Berbeda dengan kebijakan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Gianyar, warga Desa Pejeng yang memiliki Pelayana Air Mandiri lebih diringankan di saat pandemi Covid-19 ini. Ketika PDAM Gianyar hanya bisa meniadakan denda kepada pelanggan yang telat membayar iuran, Warga Pejeng justru justru mendapat keringanan tagihan, tidak tangung-tangung, pelanggan dengan tagihan di bawah Rp 50.000 per bulan, dibebaskan dari tagihan atau gratis.

Perbekel Pejeng, Tjok Gede Agung Kusuma Yuda membenarkan kebijakan yang diambil dan sudah berlaku mulai Jumat lalu. Keringanan pembayaran tagihan ini, sebutnya, untuk sementara diberlakukan untuk 2 bulan, yakni bulan Mei dan Juni.

“Dengan kebijakan ini, kami asumsikan dalam setiap bulannya potensi yang hilang sekitar Rp 28 juta. Meski demikian, kehilangan potensi tersebut tidak sampai mempengaruhi produksi,” ungkap Tjok Gede Agung.

Baca Juga:  Tetap Disiplin, Tambahan Positif 139 Orang

Lanjutnya, Air Mandiri Desa Pejeng ini sudah mulai dinikmati 1.100 an KK se Desa Pejeng sejak 5 tahun terakhir. Tujuan awalnya memang untuk memenuhi kebutuhan air bersih dengan harga terjangkau bagi masyarakat desa.

Di mana awalnya per kubik hanya di bandrol Rp 2.000 dna mulai tahun 2019 lalu naik menjadi Rp 3.000. Kini, karena disadari warganya kena imbas wabah pandemi Covid-19, Pemerintah Desa setempat pun mengambil kebijakan.

Dengan pertimbangan, warga setempat mulai kesulitan mendapatkan pekerjaan dan penghasilan dna berimbas pada tersendatnya pembayaran tagihan Air Mandiri Desa.

Baca Juga:  Dapoer Si Jagoer, Makan Sepuasnya Hanya Rp 10 ribu

“Kondisi ini  sudah kami rasakan sejak bulan April lalu. Karena itupula kami harus mengeluarkan kebijkan untuk meringankan beban warga,” jelasnya.

Terkait Air Mandiri Desa ini, awalnya dibuat menggunakan tenaga kincir dengan memanfaatkan sumber mata air tepi Tukad Pakerisan dan Tukad Petanu. Namun dengan cara manual itu, ketika ada pemeriksaan dari Puskesmas Tampaksiring ternyata ada bakteri e-coli. Terutama jika habis musim hujan, jadi tidak cukup efisien.

Dan waktu itu hanya cukup melayani 200 KK. Akhirnya, pihaknya melakukan studi ke beberapa sistem pengolahan air. Dan pilihan jatuh pad  sumber air sumur bor. “Sekarang kita punya 7 sumur bor. Punya gardu sendiri,” jelasnya.

Baca Juga:  Tetap Disiplin, Transmisi Lokal 144 Orang

Diakui, Desa Pejeng pun diuntungkan secara letak geografis, yang diapit dua sungai besar yakni Petanu dan Pakerisan.

Sehingga potensi air bawah tanah di Desa Pejeng cukup melimpah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat desa. Secara operasional, air naik menggunakan sistem otomatis. Kapasitas bak penampung hingga penuh, katanya bisa terisi sampai 80 ton.

“Pada awal pembuatan, air mandiri desa ini dikelola oleh Badan Usaha Desa Adat dibawah naungan LPD setempat. Setelah berjalan, disinergikan dengan Desa Pejeng,” pungkasnya. (ina/kb)