Ketua Harian Satgas Covid-19 Gianyar Terpapar DBD

Gianyar
Foto : Ketua Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 yang juga Sekda Gianyar, I Kadek Wisnu Wijaya.

GIANYAR, Kilasbali.com – Ketua Harian Satgas Covid-19 Gianyar, Made Gede Wisnu Wijaya  yang dalam beberapa pekan belakangan menghiasi pemberitaan perkembangan Covid-19, tiba-tiba “menghilang”. Di tengah padatnya tugas yang dijalaniny,  Sekdakab Gianyar ternyata kini harus menjalani rawat inap lantaran diserang DBD.

Dwikorawati Wisnu Wijaya yang dikorfimasi, Minggu (26/4/2020), membenakan jika suaminya kini sedang menjalani perawatan di salah satu rumah sakit swasta di Kota Gianyar. Disebutkan, dalam tiga hari perawatan, kini kondisinya sudah mulai membaik.

“Kondisi bapak sudah membaik. Saat ini panasnya sudah mulai turun, sekarang kita mengantisipasi trombosit. Biasanya kalau panasnya turun, trombositnya turun. Tapi saat ini masih di atas 100,” ungkap Dwikorawati yang juga seorang Paramedis ini.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Kesehatan, total penderita DBD per Januari sampai Maret 2020 ini, tercatat sebanyak 544 kasus. Satu di antaranya meninggal.

Di RSUD Sanjiwani Gianyar, jumlah pasien DBD yang dirawat di sana terus mengalami peningkatan. Januari, jumlah pasien DBD yang dirawat sebanyak 76 orang, Februari sebanyak 104 orang, Maret 118 orang, dan April 123 orang.

“Data ini akan terus diupdate dan untuk saat ini pasien DBD diperikirakan akan terus meningkat setiap bulan,” ungkap Kabag Humas RSUD Sanjiwani, Anak Agung Parawata.

Baca Juga:  Manis Galungan, Trash Hero Bersihkan Pantai Saba dan Pering

Terkait kondisi DBD yang tidak terkontrol ini, ada desa adat yang bertugas sebagai Satgas Gotong Royong Covid-19 merangkap petugas fogging, seperti yang dilakukan oleh Desa Adat Sema, Pering, Blahbatuh. Bendesa Sema, Made Wardana melakukan hal ini, lantaran wabah DBD sama parahnya dengan covd-19.

“Kami tidak hanya fokus pada penanganan Covid-19, tetapi kami juga fokus pada DBD, karena wabah ini sama parahnya dengan covid-19. Astungkara kasus DB di wilayah kami bisa terkendali,” ujarnya.

Kabid P2 Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, Anak Agung Anom Sukamawa menjelaskan pihaknya telah memaksimalkan fogging di sejumlah wilayah yang terdampak DBD.

Baca Juga:  Pilkada Serentak di Provinsi NTT, Pangdam IX/Udayana Terima Paparan Danrem 161/WS

Namun, dikatakan tenaga fogging yang dimiliki oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar cukup terbatas dan wilayah yang terdampak DBD cukup luas. Untuk itu, pihaknya meminta pemakluman dari masyarakat karena petugas secara bertahap akan melakukan fogging di wilayah terdampak DBD.

“Memang petugas fogging yang kami miliki terbatas, namun wilayah yang terdampak DBD di Gianyar cukup luas. Itulah yang menyebabkan antrian, namun tentu saja akan kami lakukan secara maksimal dan merata,” jelasnya.

Sementara, Ketua Komisi 4 DPRD Gianyar, yang membidangi kesehatan, Ni Made Ratnadi mengatakan, wabah DBD semakin meningkat di Gianyar. Namun ia menyoroti pemberantasan nyamuk yang dilakukan dengan cara fogging. pemberantasan nyamuk DBD dengan cara fogging menurutnya kurang efektif jika masih terdapat jentik.

“Mohon maaf fogging yang dilakukan asal foging malah akan menyebabkan nyamuk menjadi kebal dan membuat kasus DBD semakin banyak. Karena foging tidak membunuh jentik nyamuk. Maka begitu jentik itu menjadi nyamuk, ia akan semakin kebal. Sehingga semakin ganas penyebaran DBD,” jelasnya saat dikonfirmasi via telepon.

Baca Juga:  Bagikan Masker Gratis, Yowana Ubud Ingatkan Prokes

Ia lebih menganjurkan seluruh masyarakat desa dalam meminimalisasir wabah DBD, agar lebih aktif menggerakan kader Jumantik. Langkah ini menurutnya paling efektif untuk pencegahan DBD. Gerakan Jumantik Mandiri yang dipelopori oleh pemerintahan desa adalah gerakan yang wajib harus dilakukan. “Lakukan PSN mandiri di rumah masing-masing, membentuk Jumantik 1 orang untuk satu rumah” ajaknya.

Ia pun menyinggung terkait foging mandiri yang dilakukan oleh masyarakat dan sejumlah anggota dewan. Menurutnya apa yang dilakukan itu tidak buruk. Namun harus dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat. Karena fogging sifatnya sementara.

“Jangan fogging sekedar fogging, teman-teman harus pula bisa mengedukasi masyarakat untuk melakukan dan mengajak masyarakat PSN mandiri. Sampaikan juga pentingnya penggunaan bubuk abate dan Aksi 3M yang bisa dilakukan mandiri oleh masyarakat,” tandas politisi asal desa Buruan ini. (ina/kb)