Kodim Jembrana Berikan Wawasan Kebangsaan Bagi Para Guru Agama

Jembrana Pendidikan
Kodim Jembrana Berikan Wawasan Kebangsaan Bagi Para Guru Agama

JEMBRANA, Kilasbali.com – Kodim 1617/Jembrana memberikan wawasan kebangsaan dalam acara workshop peningkatan wawasan kebangsaan yang digelar di rumah makan Puas Kelurahan Banjar Tengah Jembrana, Rabu (23/09/2020)

Acara workshop peningkatan wawasan kebangsaan tersebut digelar selama 3 hari dengan mengambil tema “Melalui Pemahaman Wawasan Kebangsaan Kita Perkokoh Persatuan Dan Kesatuan Bangsa” tersebut, dihadiri oleh para Guru Agama SD, SMP dan SMA se Kabupaten Jembrana.

Dandim 1617/Jembrana Letkol Inf Hasrifuddin Haruna, S.sos., yang diwakili oleh Perwira Seksi Teritorial (Pasiter) sekaligus selaku narasumber dalam acara tersebut.

Baca Juga:  Sertijab Kapolsek Selemadeg dan Kapolsek Pupuan, Ini Pesan Kapolres

Para peserta dapat pembekalan terkait pemahaman tentang nilai-nilai Pancasila, toleransi, paham radikal serta kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup Bangsa dan negara yang seutuhnya.

Pasiter Kodim 1617/Jembrana Kapten Chb H. Karyanto dalam penyampaian materi menjelaskan Pancasila sebagai dasar negara yang sering juga disebut dengan dasar falsafah negara merupakan pegangan hidup dalam menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Dengan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila hendaknya mampu memupuk rasa toleransi dalam kehidupan sehari-hari,” sebutnya.

Baca Juga:  Cok Ace Apresiasi Peran KPID Dalam Penguatan Lembaga Penyiaran

Dengan memaknai nilai-nilai yang terkandung lanjut Pasiter, diharapkan kita sebagai generasi penerus bangsa tidak terpapar oleh paham-paham yang bertentangan dengan Pancasia.

“Paham radikal dianggap berbahaya karena dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Paham Radikal merupakan paham dimana sikap dan aksi yang muncul karena sikap fanatik, ekslusif dan revolusioner yang berlebihan,” jelas Kapten Karyanto.

Dijelaskannya paham radikal memang sangat kental dikaitkan dengan aksi terorisme, ditambah lagi dengan fakta bahwa isu teror di Indonesia memang dilakukan oleh kelompok orang yang mengaku diri mereka sebagai kelompok garis keras atau radikal serta mengacu pada sebuah gerakan yang membuat perubahan dramatis di lingkungan tempat tinggalnya. (jus/kb)