Komunitas Mahima Sajikan Musikalisasi Bertema Alam, Manusia dan Spiritual

Denpasar Seni Budaya

DENPASAR, Kilasbali.com – Ketika gitar mulai dipetik dan syair-syair puitis dilantunkan dengan melodi, sontak pengunjung Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2019 terdiam. Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali tempat komunitas seni itu pentas seakan terbius. Puisi-puisi yang bertemakan alam, manusia dan spiritual itu diekspresikan dengan gaya yang sangat khas, indah dan penuh penjiwaaan. Apalagi, semua itu disajikan dengan apik dan dikemas sebagai pertunjukan seni sarat edukasi, pastinya sangat menarik.

Itulah penampilan Komunitas Mahima dalam ajang seni modern yang digelar Pemerintah Provinsi Bali di Taman Budaya selama dua minggu (26 Oktober – 8 November). Komunitas yang didukung anak-anak muda kreatif itu sanggup menterjemankan tema FSBJ 2019 yaitu “Hulu-Teben: Dialektika Lokal-Global” lewat pertunjukan Musikalisasi Puisi yang inovatif. “Kali ini, kami menampilkan musikalisasi puisi bertajuk Interior Danau untuk mewadahi ekspresi dan apresiasi terhadap alam, manusia dan hal-hal spiritual yang terbentang diantaranya,” kata Kadek Sonia Piscayanti selaku pengarah produksi disela-sela pementasan, Senin (28/10/2019).

Kadek Sonia Piscayanti mengatakan, tujuh puisi dibawakan dengan tema yang hampir sama, yaitu persoalan alam, manusia dan spiritualitasnya. Semua puisi terpilih berdasarkan tema FSBJ 2019. Hulunya adalah unsur spiritualitas alamnya dan Tebennya adalah bagaimana manusia meresponnya. Sebut saja pada puisi Dewi Padi, dimana hulunya adalah unsur spiritualitas padi, lalu bagaimana manusia meresponnya adalah tebennya. “Demikian dengan puisi Margarana, semangat heroism itu adalah hulunya dan cara kita merespon hari ini adalah tebennya. Puisi My Hair My Hair juga bercerita spiritualitas rambut lalu bagaimana manusia meresponnya,” papar dosen Undiksha ini.

Menurut Kadek Sonia Piscayanti, puisi tidak bisa dipisahkan dari unsur intrinsik dan ekstrinsik yang membangunnya. Instrinsik adalah pola struktur bangunan puisinya dan ekstrinsik adalah tema sosial yang lahir di masyarakat yang membangun pola itu, lalu meresponnya. “Kami memang benar-benar menyiapkan music puisi, sehingga ada yang baru dari pentas-pentas sebelumnya,” imbuhnya.

Mahima yang juga rumah belajar seni dan budaya beralamat di Jalan Pantai Indah III No 46 Singaraja menyajikan 7 musikalisasi puisi (musik puisi). Yakni Nyanyian Hutan – Ajamuddin Tifani Dewi Padi – Made Adnyana Ole, Interior Danau – Made Adnyana Ole, Prasida Antuk Titiang – Tuti Dirgha, Walau Hanya Sekali – Tuti Dirgha, My Hair My Hair – Kadek Sonia Piscayanti, Margarana – Wayan Rugeg Nataran. Sebagai pendukung vocal, adalah Rahatri Ningrat (Gek Ning), Gita Suami, Gek Santi, Mila Romana, serta pembaca puisi Kadek Sonia Piscayanti dan Putu Putik Padi. Sedangkan pendukung music, yaitu Made Tantri (keyboard), Amel (biola). Kade Arie ( gitar), Jagathdita (gitar) dan Gede Satria (kajon).

AAN. Anggara Surya selaku Pimpinan Produksi mengatakan, sebagai keseriusan mendukung ajang seni kekinian itu, pihaknya menghadirkan pendukung yang telah memiliki pengalaman dalam urusan seni pentas ataupun sastra. Pentas dalam ajang FSBJ ini sebagai ajang kreativitas untuk mengekpresikali bakat seni khususnya dalam seni modern. “Hal ini sesuai dengan kegiatan yang selama ini kami lakukan. Mahima, sebagai komunitas seni budaya yang kegiatannya meliputi pementasan seni, teater, musikalisasi puisi, diskusi buku, penerbitan buku, dan workshop-workshop literasi itu memang memiliki gaya yang khas dalam setiap penampilannya,” pungkasnya. (rls/kb)