Konprov PGRI Bali, Rektor Suarta “Banjir” Dukungan

Denpasar
Foto: Ketua Yayasan YPLP IKIP PGRI Bali, I Gusti Bagus Arthanegara.

DENPASAR, Kilasbali.com – Rupanya peluang Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. Made Suarta, SH., M.Hum., menjadi calon Ketua PGRI Bali semakin terbuka lebar. Dari informasi yang dikumpulkan, Rektor Suarta dibanjiri dukungan dari Cabang PGRI di berbagai kabupaten.

Diantaranya adanya komitmen dari PGRI Cabang Gianyar dan Klungkung yang telah secara resmi menyatakan dukungan tertulis. Tidak hanya itu, informasi juga menyebutkan, beberapa kabupaten seperti Bangli, Karangasem, Buleleng, dan Jembrana juga mulai melirik bakal calon ini dan telah menyatakan dukungannya, namun baru sebatas lisan.

Ketua Yayasan YPLP IKIP PGRI Bali, I Gusti Bagus Arthanegara saat dikonfirmasi tak menampik terkait informasi bahwa Rektor Suarta banjir dukungan untuk menahkodai organisasi guru terbesar ini.

“Yang secara resmi baru PGRI Cabang Klungkung dan Gianyar, sedangkan sisanya baru secara lisan,” ujarnya saat ditemui di IKIP PGRI Bali di Denpasar, Rabu (8/1/2020).

Dalam kesempatan ini, tokoh pendidikan senior ini menuturkan awal mula dirinya mencalonkan Rektor Suarta sebagai ketua. Menurutnya, itu karena adanya amanah langsung dari pusat. Di mana pagi-pagi buta sekitar pukul 06.30 WITA, dirinya mendapatkan telpon dari Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., yang meminta agar Rektor IKIP PGRI Bali menjadi calon ketua, mengingat Ketua PGRI Bali Wenten Aryasudha sudah tidak boleh lagi karena sudah dua kali berturut-turut menjadi ketua.

“Beliau meminta agar seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur yang Ketua PGRI dari IKIP PGRI. Pesan ini saya sampaikan kepada Rektor, yang kemudian disampaikan kepada Ketua PGRI Bali melalui WhatsApp (WA). Di mana Ketua PGRI Bali membalasnya dan menyatakan dukungannya. WA balasan itupun saya kirim kepada Ketua Pusat,” tuturnya seraya mengatakan, Ketua Pusat meminta agar Konferensi Provinsi PGRI Bali ini berjalan dengan kondusif dan tidak sampai ke ranah hukum, tuntut-menuntut seperti daerah lain.

Terkait persyaratan menjadi bacalon, kata Arthanegara, Rektor Suarta telah memenuhi persyatan. Di mana ia telah duduk menjadi Sekretaris Dewan Kehormatan Guru PGRI Bali, mempunyai kartu PGRI, dan menduduki jabatan dua tingkat di bawahnya. Sedangkan terkait syarat iuran, kiprah IKIP PGRI Bali ini juga tidak diragukan lagi.

Menurutnya, hal tersebut dibuktikan dengan telah menyumbang lebih dari iuran yang harus dibayarkan. Yakni menyumbang pagelaran seni saat HUT PGRI tahun 2018 dan 2019. Di mana anggaran yang digelontorkan mencapai Rp70 juta untuk pagelaran seni dipuncak HUT PGRI 2019 kemarin.

“Sumbangan ini juga diakui oleh Ketua PGRI Bali Wenten Aryasudha bahwa IKIP PGRI banyak membantu PGRI Provinsi Bali,” ungkapnya.

Arthanegara juga membeberkan sumbangsih IKIP PGRI Bali terhadap tenaga pendidikan di Bali. Sejak berdiri di tahun 1983, kata dia, IKIP PGRI Bali telah melakukan perkuliahan untuk menjadikan guru bergelar S1. Karena sayarat guru saat itu harus S1.

“Guru yang mau kuliah diberikan keringanan bayar SPP 50 persen, tidak membayar uang gedung, membuka kelas baru (pada waktu masih diizinkan-red) di Klungkung, Gianyar, Bangli, Karangasem, Nusa Penida, dan Jembrana. Di mana saat itu, PGRI Jembrana bergabung ke Banyuwangi. Akhirnya tidak jalan sehingga IKIP PGRI membuka Akte IV,” bebernya seraya menjelaskan, hingga saat ini lulusan IKIP PGRI Bali telah mencapai 22 ribu, dan telah menduduki berbagai jabatan startegis. Mulai dari penyiar, wartawan, guru, bupati dan lain sebagainya. Dimana sebagaian besar dari jumlah itu berprofesi guru. (jus/kb)

Rektor IKIP PGRI Bali Siap “Ngayah Sekala Nisakala”