Kucit Bantuan APBDes Manistutu Mati Mendadak

Jembrana Peristiwa
Foto: Ilustrasi/ist

JEMBRANA, Kilasbali.com – Matinya sejumlah anak babi (kucit) bantuan dari APBDes Manistutu 2019 membuat warga khawatir. Pasalnya, kucit yang diditribusikan kepada 140 warga yang tergabung dalam tujuh kelompok ternak pada Selasa (26/11/2019) lalu, kurang dari dua pekan sejak dibagikan sudah empat ekor yang mati tiba-tiba.

Warga khawatir, mulai dari pengadaan kucit itu ada kesalahan penyediaan bibit hingga penularan penularan penyakit African Swine Fever (ASF) seperti yang beredar di media sosial.

Mantan PJ Perbekel Desa Manistutu, I Gede Arya Widiarta mengakui 140 ekor bibit babi untuk program pemberdayaaan tersebut dibagikan saat dirinya masih menjabat sebagai PJ Perbekel. Ada tujuh kelompok ternak mendapat masing-masing 20 ekor kucit.

Lokasi kucit yang mati tersebar di kandang warga di tiga banjar Banjar Benel, Banjar Tunas Mekar dan Banjar Pendem. Untuk pengadan kucit tersebut digelontorkan anggaran dari APBDes Rp 112 juta dengan potongan pajak 11, 5 persen untuk PPN dan PPH, sehingga perekor senilai Rp 700 ribu lebih dengan jenis kelamin campuran baik jantan maupun betina. Dengan banyaknya spekulasi yang berkembang mulai dari masalah pengadaan hingga khekawhatiran penyakit ASF, ia mengakui pengetahuan warga masih minim.

“Pada awal sebelum didistribusikan. Keswan mengumpulkan kucit jadi satu koloni. Kemudian, disuntik dan sudah ada pengecekan dokter hewan. Ini memang pengetahuan warga kurang baik. Ketika sudah diketahui sakit tidak ada pelaporan. Padahal sudah ada imbauan supaya melaporkan jauh sebelum kejadian,” tegasnya.

Bahkan ia memastikan kucit itu mati bukan karena penyakit ASF. “Dari pihak Keswan sudah mulai awal melakukan pemeriksaan. Dan memang kucit mati itu karena diare dan cuaca,” ungkapnya, Selasa (10/12/2019).

Sedangkan Perbekel Desa Manistutu terpilh, Komang Budiana menyatakan kucit bantuan yang didistribusikan ke warga memiliki standardisasi. Pihaknya memastikan kucit yang mati tersebut akan diganti oleh penyedia. Menurutnya sesuai kesepakatan, rekanan penyedia kucit tersebut bersedia mengganti kucit yang mati.

“Kami masih menunggu untuk bobot kucit. Standarnya memang berat bibit harus 10 kilogram,” ungkapnya. Ia menyatakan prorgram bantuan kucit ini baru pertamakali dilaksanakan di Manistutu.

Dengan jumlah KK miskin yang kini mencapai 182 KK, pihaknya berharap dengan sistem OVOP (One Village One Product), Desa Manistutu bisa menjadi penghasil ternak babi yang hasilnya nanti kembali kepada warga.

“Jadi kami berniat untuk berdaya saing. Nantinya harapannya Bumdes yang akan menampung kucit untuk kemudian dijual. Dan hasilnya kembali ke warga dan bisa untuk dikembangkan hingga akhirnya diberikan ke warga yang kurang mampu,” papar Perbekel yang baru resmi dilantik Jumat (6/12/2019) lalu.

Sementara itu, Kasi Keswan Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, drh IGNB Rai Mulyawan mengatakan berdasarkan surat permohonan Pj perbekel Manistutu, kucit bantuan tersebut sudah dilakukan pengecekan.

Investigasi yang dilakukan dokter hewan di Puskeswan Melaya menyatakan kucit yang mati tersebut juga tidak terpapar ASF. “Penyebabnya diare dan dehidrasi. Seharusnya tidak diberi pakan tradisional atau pakan cair. Untuk diawal seharusnya diberi sentrat atau pakan padat,” tandasnya. (gus/kb)