LPPM ITB Usulkan Kelapa Sebagai Sumber Energi Biomasa Terbarukan

News Update Pendidikan Sosial Tabanan
Caption: Foto Bersama Pengabdian Masyarakat Pemanfaatan Kelapa di Tabanan, Bali

TABANAN, Kilasbali.com – Dalam upaya mendukung visi-misi Propinsi Bali ‘Nangun Sat Kerti Loka Bali’, LPPM ITB mengusulkan pemanfaatan komoditas kelapa secara terpadu sebagai sumber energi biomasa terbarukan dan produk turunan lain yang menunjang ketahanan pangan. Dari hulu sampai hilir, kelapa memiliki nilai strategis yang dapat menunjang berbagai sektor kehidupan.

Kelapa tidak membutuhkan pembukaan lahan baru karena dapat ditanam di pematang sawah, tumpang sari di perkebunan palawija, dan lahan-lahan lain yang masih ada ruang kosong secara ko-lokasi.

Penanaman kelapa secara ko-lokasi dengan perencanaan tata ruang yang tepat dan asri akan menjadi daya tarik pemandangan tersendiri bagi wisatawan sekaligus dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.

Baca Juga:  Cok Ace Paparkan Strategi Pertanian 4.0 Provinsi Bali

Dengan konsep penanaman ko-lokasi ini diperkirakan produksi kelapa dapat meningkat sampai 5 kali dari tingkat produksi sekarang. Penanaman kelapa secara masif juga akan memberi kontribusi positif terhadap upaya penganggulangan pemanasan global sebagai daya tarik tambahan bagi wisatawan pencinta lingkungan.

Pada hari Sabtu dan Minggu (28 – 29 Agustus 2021), LPPM ITB bermitra dengan IBIMA telah menyelenggarakan pengabdian masyarakat dalam upaya pemanfaatan kelapa sebagai sumber energi biomasa terbarukan secara terpadu dengan program ketahanan pangan di Desa Bantiran, Kab. Tabanan, Bali.

Acara ini diselenggarakan selama dua hari diikuti oleh lebih dari 15 peserta dari tiga desa yakni Belimbing, Bantiran dan Pupuan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Masyarakat skema Bottom-Up LPPM ITB dengan anggota tim utama Dr. Eng. Arno Adi Kuntoro, S.T, M.T, dan Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha, Ph.D.

Baca Juga:  Mayat Laki-laki Ngapung di Tengah Laut

Pelatihan pemanfaatan kelapa ini terbagi menjadi beberapa segmen, mulai dari pembuatan minyak VCO dan minyak goreng dari daging kelapa, budidaya Maggot BSF dari ampas kelapa, produksi pupuk cair hayati dari air kelapa, pembuatan cocochip untuk bahan bakar kompor rumah tangga beserta demonstrasi aplikasinya, pembuatan cocofiber dari sabut kelapa dan cocopeat sebagai media tanam pertanian dari pemisahan serat cocofiber.

Di tempat pelatihan ini akan dijalankan program pilot project bersama IBIMA untuk menjadi percontohan bagi masyarakat yang berminat menindaklanjuti secara kolaborasi.

Baca Juga:  Prosentase Kesembuhan Pasien Covid-19 di Kota Denpasar Capai 94,89 Persen

Keberhasilan pilot project ini diharapkan dapat menjadi contoh nyata mengenai aplikasi pengolahan kelapa secara terpadu yang dapat dijalankan oleh masyarakat Bali secara umum dalam skema UKM atau BUMDES, tentunya dengan dukungan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan.

Dengan gerakan pengolahan kelapa terpadu secara masal, terlebih lagi berbasis Desa Adat Pekraman, diharapkan kemandirian energi dan ketahanan pangan di Bali dalam jangka panjang bisa diwujudkan.

Pada akhir penutupan acara pelatihan dilakukan penyerahan 5 bibit kelapa hybrida secara simbolik kepada tiap peserta untuk ditanam di pekarangan masing-masing sebagai wujud kesungguhan untuk mendukung dan meneruskan program ini. (djo/kb)