Malu Berkatagori Kumuh, Desa-desa Langsung Berbenah

Gianyar Sosial
Foto: Sampah menjadi salah satu faktor desa yang berkatagori kumuh

GIANYAR, Kilasbali.com – Sandangan desa kumuh bagi 8 desa dari 64 desa di kabupaten Gianyar, tentunya manjadi tamparan keras bagi aparatur dan warga desa.

Malu dengan sandangan desa kumuh ini, sejumlah desa pun langsung tancap gaas untuk berbenah. Penanganan sampah hingga penataaan keindahan kawasan yang menjadi wajah pun diprioritaskan.

Sebagimana diungkapkan oleh Dinas Pemukiman dan Penataan Wilayah dan Pertanahan Gianyar, terdapat 8 desa/ kelurahan yang masuk katagori desa kumuh. Desa tersebut adalah Kelurahan Bitra, Desa Serongga, Bedulu, Tulikup, Tojan, Lebih, Lodtunduh dan Desa Mas.

Syukurnya dalam waktu cepat, Desa Mas dan Lodtunduh di Kecamatan Ubud sudah tancap gas sehingga kini tidak lagi masuk katagori kumuh. Yang tersisa kini 6 desa masih dikatagorikan kumuh.

Baca Juga:  Tim Yustisi Denpasar Jaring Sembilan Pelanggar Prokes di Pemecutan Kaja

Lurah Bitra, Gede Bagiada mengakui kalau wilayah kerjanya masuk dalam wilayah kumuh. Yang mana wilayah Bitra yang dikatagorikan kumuh tersebut adalah wilayah Roban dan Banjar Sema.

Pihaknya pun sudah berusaha mengentaskan kumuh tersebut. Dijelaskannya, hal yang pokok penyebab kumuh adalah persoalan sampah di perempatan Bitra. Di mana sampah tersebut menjadi salah satu indikator wilayah kumuh.

“Kami sudah melakukan imbauan ke masyarakat, agar mengeluarkan sampah sebelum jal 7 pagi hari,” ujarnya, Kamis (7/1/2021).

Lanjutnya, infrastruktur lingkungan di Desa Bitra belum semua tuntas. Karena masih ada infrastruktur lingkungan yang belum bisa dituntaskan, kecuali jalan lingkungan.

Termasuk saluran drainase yang belum tuntas dengan baik. Kembali kepersoalan sampah yang menjadi perhatian Dinas Perkim akan dituntaskan di Tahun 2021 ini.

Baca Juga:  Ace Hardware Indonesia Donasikan 2000 APD untuk Bali

Senada dengan Lurah Bitra, Perbekel Lodtunduh, Gede Gunawan juga mengakui kalau wilayahnya termasuk dalam desa kumuh. Wilayah di desanya yang menjadi desa kumuh adalah Banjar Silungan dan Banjar Gelogor.

“Memang desa kami sebelumnya masuk katagori kumuh, namun kemudian tidak termasuk,” jelasnya.

Walau demikian diakuinya kalau dua wilayah yang disebutkan Dinas Perkim belum tertata dengan baik. Dijelaskannya, untuk katagori saluran drainase dan TPST belum tersedia dengan memadai.

Dikatakan Gunawan, persoalan sanitasi di desanya belum tuntas dan saluran got di sepanjang jalan protokol belum tuntas.

Baca Juga:  Kasus Covid-19 Makin Masif, Dewa Indra Harap Masyarakat Disiplin Prokes

“Yang berkaitan dengan penataan lingkungan, kami ajukan usulan ke kabupaten. Sedangkan yang berkaitan dengan pengelolaan sampah, kami akan membuat semacam TPST sambil memberikan sosialisasi tentang penglolaan sampah,” tandasnya.

Sebelumnya, Kabid Kawasan Pemukiman, Dinas Perkim, Nyoman Sedewi, mengungkapkan jika desa berkatagori kumuh, maka pemerintah akan melakukan penataan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Menurutnya indikator kumuh tersebut meliputi kepadatan perumahan dan tidak tertatanya kawasan pemukiman, jaringan lingkungan yang belum memadai, prasarana pengelolaan sampah, sistem pembuangan limbah dan tersedianya air bersih.

Lanjutnya, desa yang dikatagorikan kumuh akan dilakukan penataan sesuai tingkat skor terendah. Bila skor jaringan lingkungan rendah, maka akan dilakukan penataan jaringan lingkungan, dan seterusnya. (ina/kb)