Menghilang di Areal Pasar, Pedagang Bermobil Jemput Bola ke Pedesaan

Gianyar
Foto : Petugas berjaga di kawasan Ubud.

GIANYAR, Kilasbali.com – Tidak hanya pelanggaran parkir, pedagang bermobil yang kerap memicu kemacetan di pagi hari di depan pasar Ubud, juga mulai menghilang. Menurunnya pelanggaran pedagang bermobil ini terjadi lantaran pembatasan jam buka tutup pasar tradisional yang dijaga ketata aparat. Menyiasati itu, pedagang bermobil pun melihat celah baru dengan sistem jemput konsumen ke pedesaan.

Kasatpol PP Kabupaten Gianyar, I Made Watha mengungkapkan, diawal-awal diberlakukannya peraturan jam buka tutup pasar tradisional, angka pelanggaran yang dilakukan oleh oknum pedagang bermobil masih mengalami kenaikan. Namun, seiring diberikan pemahaman oleh petugas maka saat ini angka pelanggaran sudah menurun.

“Untuk pedagang bermobil saat pembatasan jam buka tutup pasar tradisional mulai diberlakukan itu angka pelanggarannya sempat naik, akan tetapi setelah beberapa waktu dan kami berikan arahan kepada mereka maka saat ini angka pelanggarannya sudah menurun,” ungkapnya, Selasa (28/4/2020).

Baca Juga:  Pilkada Serentak di Provinsi NTT, Pangdam IX/Udayana Terima Paparan Danrem 161/WS

Dikatakannya, ketika diawal-awal pemberlakuan jam buka tutup pasar tradisional diberlakukan di Kabupaten Gianyar, hanya sedikit pedagang bermobil yang mengetahui peraturan tersebut. Seperti di halnya di Pasar Ubud yang kerap menuai sorotan masyarakat, dikarenakan kebanyakan pedagang bermobil berasal dari luar daerah. Awalnya, pedagang inipun tetap menyesuaikan jam biasanya mereka datang yakni jam 03.00 wita.

“Karena banyak yang tidak tahu ada aturan tersebut diawal memang masih banyak pelanggaran, Akan tetapi secara perlahan setelah beberapa kali diperingatkan, mereka pun menyesuasaikan dan ada pula yang tidak lagi berjualan,” ungkapnya.

Terlebih dalam sepekan ini pelanggaran harus dikenakan tindakan tegas. Karena pelanggaran yang dilakukan oleh pedagang bermobil tersebut langsung ditindak karena melanggar Prda nomor 15 tahun 2015 tentang ketertiban umum.

Baca Juga:  Mahfud MD; Penetapan Paslon Berpotensi Timbulkan Kerumunan Massa

Demikian pula, penertiban ini juga terwujud lantaran sinergi petugasnya dengan pihak Desa Adat setempat, Satgas Covid-19, serta OPD terkait untuk memberikan himbauan kepada para pedagang maupun pembeli yang masih melakukan aktivitas di pasar agar selalu mengikuti anjuran social distancing serta physical distancing.

Wayan Laba, salah seorang pedang bermobil asal Bedulu, mengungkapkan, semenjak diberlakukan pembatasan jam buka dan tutup di pasar, pendapatan pedagang bermobil khususnya sangat berpengaruh, karena secara otomatis mereka tidak lagi bisa berjualan di areal depan pasar. Menyiasati itu, Wayan pun mencoba berjualan dengan sistem jemput konsumen.

Pertimbangnnya, kata dia, semenjak wabah covid 19 ini, banyak pelangggan yang was-was ke pasar lantaran berdesak-desakan. “Banyak pelanggan yang tidak lagi ke pasar. Karena itu, saya jemput mereka di lingkungannya. Syukurlah kami masih punya celah dan tidak dikejar-kejar petugas juga. Pedagang bermobil lainnya juga banyak melakukan hal yang sama,” terang Wayan yang memilih berjualan di Banjar Tebeaya, Peliatan Ubud ini. (ina/kb)