Minimalisir Kesenjangan, Gairahkan Ekonomi Kerakyatan

Denpasar Ekonomi Bisnis
Foto: Gubernur Koster saat menerima audiensi jajaran Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bali di Rumah Jabatan Jaya Sabha, Denpasar pada Kamis (2/1/2019) pagi.

DENPASAR, Kilasbali.com – Gubernur Bali Wayan Koster memastikan bahwa terkait arah pembangunan Bali di bidang ekonomi akan makin dimantapkan. Salah satu yang menjadi fokus utamanya adalah menyangkut pemerataan ekonomi masyarakat yang digerakan oleh faktor ekonomi kerakyatan.

Demikian terungkap saat Gubernur Koster menerima audiensi jajaran Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bali di Rumah Jabatan Jaya Sabha, Denpasar pada Kamis (2/1/2019) pagi.

“Sekarang sudah dipetakan dengan baik, itu apa-apa saja. Jadi 2020, kita bisa realisasikan dan jalankan dengan baik,” ujar Gubernur Koster.

Kemudian Gubernur Koster pun mengungkapkan alasan dirinya mengapa lebih memfokuskan kepada bidang ekonomi kerakyatan. Sebab menurutnya selama ini ekonomi kerakyatan terbukti mempunyai dampak besar dalam menggerakkan ekonomi di tingkat bawah.

“Bali ini sangat bagus ekonomi rakyatnya, UMKM-nya, industri sandang dan pangannya. Ini yang akan kita dorong terus dengan ditunjang pembangunan infrastruktur yang bagus, plus konektivitas yang memadai. Dengan demikian kita harusnya bisa lebih mandiri secara ekonomi,” jelas Gubernur kelahiran Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng ini.

Selanjutnya apabila yang menjadi syarat dan penunjang pertumbuhan ekonomi kerayakyatan itu direalisasikan secara serius, pihaknya optimis kesenjangan ekonomi masyarakat akan mampu dipersempit.

“Jika kita garap dengan serius dan komitmen, saya yakin kesenjangan kita di Bali akan terus menipis, pembangunan ekonomi akan semakin merata,” tegasnya.

Apalagi tambah mantan DPR RI ini, Bali mempunyai faktor modal cukup besar, yakni terkait nama Bali sebagai sebuah brand. Yang bila dikemas dengan baik akan sangat potensial untuk ‘menjual’ produk-produk lokal Pulau Dewata.

“Kita perlu identitas sendiri untuk produk-produk kita. Kita harus kedepankan hal itu agar ekonomi lebih bergerak lagi,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengatakan bahwa menurut perkiraan BI terkait pertumbuhan ekonomi di Bali menunjukkan tren yang baik. Padahal secara umum ekonomi Indonesia menunjukkan potensi menurun.

“Kita optimis pertumbuhan ekonomi di Bali akan menguat dibandingkan tahun sebelumnya. Begitupun tingkat inflasi di Bali akan tetap berada di bawah tingkat inflasi nasional. Ketiadaan peristiwa besar seperti periode pemilu seperti tahun lalu juga jadi indikator stabilnya ekonomi di Bali. Sehingga sektor utama seperti pariwisata bisa lebih baik pertumbuhannya,” jelas Nugroho.

Namun demikian, Nugroho tetap memberikan catatan kepada beberapa faktor yang bisa saja mempengaruhi tingkat inflasi di tahun 2020. “Tantangan kita ke depan adalah naiknya iuran BPJS hingga naiknya cukai rokok yang kemungkinan juga bisa berpengaruh kepada inflasi,” ujarnya.

Di samping itu, BI menurut Nugroho juga sedang mengembangkan sebuah sistem dalam bentuk aplikasi yang mampu memberikan update terbaru harga-harga bahan pokok di beberapa pasar modern dan tradisional di Bali.

“Jadi secara online dapat diketahui berapa harga cabai, harga ayam, dan bahan lainnya di pasar-pasar. Kita bisa melihat update-nya setiap hari sekaligus melihat pula gejolak harga di pasar seperti apa,” tutupnya. (rls/kb)