Nelayan Hilang Kembali Terjadi di Perairan Jembrana

Jembrana Peristiwa
Foto: Petugas SAR saat melakukan penyisiran untuk mencari nelayan yang hilang.

JEMBRANA, Kilasbali.com – Seorang nelayan tradisonal, Supandi (37) warga Banjar ketapang Muara, Desa Pengambengan, Kecamatan Negara dilaporkan hilang setalah pergi melaut di perairan Jembrana pada Kamis (20/1/2020), sekitar pukul 17.00 WITA.

Kasus nelayan hilang di tengah laut ini pertamakali dilaporkan oleh istri korban, Nurhayati (35) ke Pos Polisi Perairan Polres Jembrana di Kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan.

Dalam laporannya, korban diketahui melaut seorang diri menggunakan sampan fiber warna merah kombinasi putih menggunakan dua mesin.

Namun setelah lebih dari 24 jam, korban juga tidak ada mendarat ke pelabuhan jukung tradisonal di Ketapang Muara. Istri korban yang juga belantik (pedagang ikan) merasa ada yang aneh lantaran nelayan lain yang juga memancing di tengah laut menggunakan jukung sudah kembali ke darat pada Jumat pagi.

Kendati korban saat melaut membawa HP, namun saat dihubungi ponselnya dalam keadaan tidak aktif. Sebelum dilaporkan, pihak keluarga bersama warga sempat melakukan pencarian korban ke tengah laut menggunakan dua unit jukung, namun tidak membuahkan hasil sehingga dilaporkan ke pihak kepolisian.

Jajaran Satpol Air Polres Jembrana yang menerima laporan dari istri korban sekitar pukul 16.00 WITA, Jumat (21/2/2020), langsung meneruskannya ke Pos Pencarian dan Pertolongan Jembrana. Personil Basarnas langsung turun ke lokasi untuk melakukan operasi pencarian.

Kordinator Pos Pencarian dan Pertolongan Jembrana, I Komang Sudiarsa mengatakan, pihaknya melakukan penyisiran baik di tengah laut maupun di pesisir pantai.

Pihaknya mengaku mengerahkan satu unit ruber boat untuk menyisir hingga radius 3 mill. “Ke timur sampai di Perancak dan ke barat sampai di Pebuahan,” ujarnya.

Kendati cuaca hujan mengguyur wilayah Jembrana sejak sore hari, namun pencarian tetap dilakukan hingga malam hari. “Kami baru balik pukul 20.00 WITA,” ungkapnya.

Pencarian ini, kata dia, juga melibatkan warga nelayan setempat. Pihaknya belum berani memastikan apakah korban kecelakaan laut, namun menurutnya kondisi cuaca saat ini diakuinya kurang mendukung untuk pelayaran tradisional.

“Kami belum mendapatrkan informasi titik terkahir jukung korban. Sekarang cuaca penghujan disertai angin dan gelombang tinggi. Kami akan terus lakukan operasi pencarian sampai korban diketemukan atau hingga sepekan kedepan,” pungkasnya. (gus/kb)