Pariwisata  Abu-abu, Pengusaha Ogah Urus Sertifikasi CHSE

Gianyar
Foto : Suasana di salah satu Usaha Wisata di Ubud

GIANYAR, Kilasbali.com – Isyarat pariwisata Bali akan dibuka bagi wisatawan mancanegara (wisman) pada pertengahan 2021 kini semakin abu-abu. Mengingat paparan Covid-19 di berbagai belahan benua belum juga mereda.

Kondisi ini  membuat motivasi pengusaha wisata di Gianyar menurun. Dari ribuan pengusaha hotel, restaurant dan objek wisata, hanya sedikit yang tertarik mengurus sertifikat Cleanliness, Health, Safety dan Environment (CHSE) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

“Dalam kondisi pandemi ini, melakukan apa saja serba salah. Ngurus sertifikat CHSE  juga tidak mudah. Selain  memiliki Tanda Daftar Usaha Pariwisata dan perizinan laiannya, juga harus menyiapkan fasilitas-fasilitas lain untuk memenuhi standarisasi yang ditentukan. Itu juga membutuhkan biaya,” ungkap Agus, salah seorang Pengusaha Wisata asal Ubud.

Baca Juga:  Polsek Kota Gianyar Sterilkan Plastik Pesisir

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar, Anak Agung Gde Putrawan, Selasa (18/5/2021) mengatakan sertifikat CHSE sangat penting dikantongi karena berfungsi sebagai jaminan kepada wisatawan dan masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan.

Di Kabupaten Gianyar, saat ini  pihaknya menerima permohonan sertifikat CHSE sebanyak 211. Namun baru 180 hotel, restoran dan objek wisata yang sudah mendapatkan sertifikat CHSE, terdiri dari 135 hotel bintang 3, 4, 5, dan hotel non bintang, 28 daya tarik wisata termasuk didalamnya kebun binatang, museum, dan 17 restoran.

“Dengan sertifikat CHSE tersebut,  usaha ini  sudah siap menerima kunjungan wisatawan tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Pariwisata adalah bisnis kepercayaan. Jika usaha tersebut tidak memiliki sertifikat CHSE, tentunya mempengaruhi kepercayaan dan kenyamanan wisatawan yang akan berkunjung,” pungkasnya. (ina/kb)