Pecut Miliki Peluang Jadi Ikon Bali

Denpasar Seni Budaya
Alamsyah perajin pecut di Kota Denpasar

DENPASAR, Kilasbali.com – Membuat sebuah pecut yang merupakan senjata tradisional, ternyata memiliki kerumitan tersendiri.

Pemilihan bahan baku yang berasal dari kulit ternyata tidak segampang yang dipikirkan. Hal ini karena tidak semua pengrajin kulit bisa memenuhi permintaan dari perajin pecut.

Alamsyah seorang perajin pecut di Kota Denpasar menuturkan, sejak tahun 1986 dirinya mulai belajar secara naluri dengan mencari informasi tentang bahan pecut, sehingga lahirlah pecut pertama.

“Bekerjasama dengan Prof. Dibia ternyata di Puri Grenceng ada. Kemudian ada permintaan dari Prof. Dibia tentang gambaran pecut jaman dulu.
Saya sampaikan bahan pertama adalah rambut. Karena secara logika dia hitam.
Yang kedua adalah ijuk sehingga lahirlah pecut kuno yang secara pemikiran adalah masuk akal. Jadi pecut ijuk lahir pada waktu itu,” terangnya.

Setelah ini dirinya masuk asosiasi dunia. Saat ini Bali terdaftar sebagai pembuat pecut, pemain pecut, yang ada di dunia. Jadi satu-satunya di Indonesia ada di Bali.

“Secara pemetaan Google oleh senior cambuk di Inggris Pete Gamble memasukkan saya terdaftar di Google map cari legend view itu ada di Bali. Sekarang dapat support dari Puri Grenceng lalu lahirlah festifal budaya (pecut, red),” imbuhnya.

Respon masyarakat di Bali sendiri terhadap pecut menurutnya masih agak lambat karena ini adalah produk baru untuk Bali sendiri.

Tapi itu adalah sebuah tantangan bagaimana memajukan pecut di Denpasar, Badung dan menjadi ikon Bali.

Pecut buatannya juga diperjualbelikan, namun masih di sekitar Bali. Berhubung situasi pandemi, daya beli masyarakat juga turun.

“Minimal dari Puri Pemecutan sendiri, satu keluarga besar punya satu pecut,” sebut Alamsyah yang juga seorang penari pecut.

Untuk pengerjaan pecut, dirinya menjelaskan pecut dari tali parasut memerlukan waktu 4 hari, sedangkan dari kulit 10 hari. Pecut dari kulit lama pengerjaannya karena di sini tidak ada pengrajin kulit yang bisa membuat kulir sesuai permintaannya.

“Yang normal lebar 5 mm dengan ketebalan 1 mm. Kemudian lebar 2-3 mm dengan ketebalan 0,5 mm,” ungkapnya.(sgt/kb)