Pemerkosaan Pegawai Mini Market di Ubud, Polisi Tetapkan Lima Orang Tersangka

Gianyar
Ilustrasi/net

GIANYAR, Kilasbali.com – Menindaklanjuti laporan dugaan pemerkosaan terhadap seorang pegawai mini market di Lodtunduh Ubud, Jajaran Reskrim Polres Gianyar merespon cepat.

Setelah dilakukan pemeriksaan maraton terhadap korban. Saksi dan terlapor lima orang pria bejat itu langsung dihadiahi status tersangka. Dijerat dengan Pasal 285 KUHP, ancaman Hukuman Pidana 12 tahun pun menanti.

Dari informasi yang diterima, Senin (3/4/2021) lima orang yang dilaporkan, dan ambil bagian dalam pemerkosaan itu sudah menjalani pemeriksaan intensif. Masing-masing, G (25) dan CA (22), PR (41), AAGD (27) dan GNAC (30).

“Semua sudah kami periksa dan lima orang sudah kami tetapkan sebagai tersangka,” ungkap Kasat Reskrim Polres Gianyar, AKP Laorens Rajamangapul Heselo.

Baca Juga:  Warga Singapura Titip Sembako untuk Warga Ketewel

Disebutkan, aksi bejat itu dilakukan oleh para tersangka saat pesta miras. Hingga akhirnya mereka pun berniat jahat terhadap MACD (19), asal Tabanan ini.

Berbekal sebuah foto bugil milik korban, salah satu pelaku GA pun mengancam korban akan memviralkan foto itu jika korban tidak mengikuti kemauannya. Dengan terpaksa, korban pun menurut dan dijemput di depan toko modern di Desa Mas, Ubud, tempat korban bekerja.

Saat itu korban dijemput oleh pelaku berinisial AG, 25, dan CA, 22, korban yang sudah terancam ini kemudian dibawa ke tempat para pelaku berpesta miras. Menghindari keramaian, korban dibawa ke perkebunan lanjut digarap secara bergiliran.

Baca Juga:  Payangan Bakal Sandang Kawasan Wisata

“TKP-nya di sebuah kebun milik warga di Banjar Kertawangsa, Desa Lodtunduh, Ubud,” terangnya.

Mengenai kemungkinan adanya upaya damai antara korban dan para tersangka, AKP Laorens menegaskan jika tindakan yang dilakukan oleh para tersangka adalah delik murni. Karena itu, pihaknya wajib memproses hukum para tersangka tanpa ataupun ada perdamaian.

Bahkan para tersangka kini dijerat dengan Pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan dengan ancaman hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun.

“Dari Pwasal ini ditegaskan bahwa perkosaan adalah delik biasa, dan bukan delik aduan. Karena itu, polisi wajib memproses kasus perkosaan tanpa adanya persetujuan dari pelapor atau korban ataupun perdamaian. Terlebih lagi, hingga kini ini kami tidak ada menerima surat perdamaian,“ tegasnya.

Baca Juga:  Tak Hanya Dijerat Hukum, Komplotan Pemerkosa Disanksi Pecaruan

Sebelumnya, dari laporan seorang perempuan muda pegawai sebuah Minimarket, sejumlah Pemuda kini harus berurusan dengan Jajaran Reskrim Polres Gianyar. Menyusul perbuatannya yang diduga telah melakukan pemerkosaan secara bergilir terhadap korban.

Atas laporan itu petugas kepolisian langsung mengamankan semua pelaku. Saat kejadian, korban disebutkan dijemput oleh dua pelaku yang memang sudah saling mengenal. (ina/kb)