Perkara Tanah Didominasi Masalah Adat

Gianyar
Foto: Paruman Desa Adat Jerokuta, Pejeng, menyikapi masalah Tanah adat, beberapa waktu lalu

GIANYAR, Kilasbali.com – Perkara tanah rupanya masih mendominasi embrio masalah adat di Gianyar. Setelah perkara lahan adat di Desa Adat Pakudui, Tegallalang yang bergulir belasan tahuan, kini muncul lagi kasus tanah adat di Desa Adat Jero Kuta Pejeng, Tampaksiring. Meskipun kesadaran masyarakat dalam menyikapi persoalan lahan ini tidak menggangu kondusivitas, namun aparat terkait tetap memberi perhatian khusus.

Dari data Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Gianyar, selama tahun 2020 ada tiga perkara di desa adat yang tercatat. Dan hingga kini salah satunya belum menemui titik temu. Mulai dari kasus sengketa tanah Desa Adat Pakudui dengan Pakudui Tempek Kangin, Kecamatan Tegalalang. Kasus lainnya adalah persoalan kasus PTSL (Pendaftaran Tanas Sistematis Lengkap) di Desa Adat Jrokuta, Pejeng dan kasus serupa juga terjadi di Desa Adat Panglan, Pejeng, Tampaksiring.

“Persoalan tanah pun berpotensi menjadi pemicu-pemicu persoalan desa adat. Syukur, permasalahan ini tidak lagi menimbulkan ganguan kantibmas. Karena ada yang diselasikan secara hukum dan ada juga yang bisa diselesaikan melalui mediasi,” ungkap Kepala Badan Kesbangpol Gianyar, Dewa Gede Putra Amerta, Rabu (28/4/2021).

Baca Juga:  Tim Yustisi Denpasar Jaring 9 Orang Pelanggar Prokes

Dewa Amerta mengakui jika persoalan tanah masih mendominasi persoalan di desa adat. Namun pihaknya bersyukur, persoalan tersebut selama ini tidak tidak menimbulkan kegaduhan-kegaduhan yang memicu kerugian material. “Syukurnya, gangguan kondusivitas tidak terjadi, karena semua instansi terkait sudah melakukan antisipasi,” ujarnya.

Dari tiga persoalan tersebut, sudah ada yang terselesaikan melalui pengadilan dan diselesaikan secara komunikatif. Yakni, persoalan Desa Adat Pakudui yang telah berlangsung sejak lama. Di mana tanah yang disengketakan telah dimenangkan pihak desa adat.

Saat ini, pihaknya masih memiliki ‘PR’, yakni menyatukan kembali warga yang berselisih akibat persoalan yang berkepanjangan. “Di Pakudui, kini hanya proses penyatuan masyarakat adat untuk kembali dalam naungan satu desa adat,” ujarnya.

Baca Juga:  Warga Singapura Titip Sembako untuk Warga Ketewel

Sementara persoalan tanah yang sudah diselesaikan dengan cara komunikasi adalah di Desa Adat Panglan. Kata dia, dalam permasalahan yang terjadi pada tahun 2020 kemarin, sejumlah warga tidak terima tanah teba-nya dimasukkan sebagai milik desa adat.

Atas ketidak terimaan tersebut, pihak adat dilaporkan ke polisi. Sementara dari pihak adat melawan dengan memberikan sanksi kanorayang. “Laporan suah dicabut, sanksi adat juga sudah dicabut. Yang masih tahap penyelesaian adalah di Desa Adat Jrokuta. Kami akan intensifkan ruang komunikatifnya,” pungkasnya. (ina/kb)