Pertanyakan Kelanjutan Kasus Koperasi Maha Suci, Korban Datangi Polres Tabanan

Hukum Tabanan
Foto : Audensi korban nasabah Koperasi Maha Suci.

TABANAN, Kilasbali.com – Belasan nasabah yang mengaku korban penipuan Koperasi Maha Suci mendatangi Polres Tabanan, Senin (2/12/2019). Kedatangan mereka untuk mempertanyakan perkembangan kasus tersebut, yang hingga kini belum menemui titik terang.

Anggota DPRD Provinsi Bali I Made Supartha yang menjadi pendamping para nasabah mengatakan, kedatangan ini untuk melakukan audensi agar kasus penipuan koperasi Maha Suci bisa ditangani lebih serius lagi.

Pasalnya, pihaknya berserta korban sudah lama melaporkan kasus penipuan tersebut ke Polres Tabanan pada pertengahan tahun 2018. Bahkan, belum adanya kejelasan dari kasus tersebut, juga telah menimbulkan korban bunuh diri, sehingga dikhawatirkan bisa menganggu nasabah lainnya.

“Adanyan audensi ini atas desakan dari para nasabah Koperasi Maha Suci, sebab sudah ada korban bunuh diri akibat ganguan psikologis. Takutnya bisa mengganggu nasabah yang lainya karena kan tekanan yang luar biasa dari pihak perbankan untuk bisa membayar, padahal dulu pembayarannya dijanjikan oleh pihak koperasi di mana jaminannya di Bank uangnya di simpan di koperasi,” ungkapnya.

Menurutnya, sesuai dengan surat dari OJK permasalahan tersebut merupakan bentuk pidana, sehingga pihaknya meminta kembali Polres Tabanan untuk bisa lebih serius menangani siapa pelakunya baik itu dari owner hingga ke bawah agar bisa dimintai pertanggung jawaban.

“Apakah nanti dikenai pasal UU Perbankan, Pasal Pencucian Uang, maupun yang lainya jangan hanya satu UU saja,” ujarnya

“Kita berharap penyelidikan dan penyidikan lebih serius dan bisa berkoordinasi dengan kejaksaan, nanti kami juga bisa berkoordinasi dengan Polda Bali,” imbuhnya.

Sementara Kasubag Humas Polres Tabanan Iptu I Made Budiarta seizin Kapolres Tabanan menjelaskan, kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan. Di mana 38 orang telah diperiksa sebagai saksi.

Dikatakannya, pihaknya memang menemui kendala yakni terduga pelaku dalam hal ini owner KSP Maha Suci I Gusti Agung Jaya Wiratma yang sudah meninggal dunia di bulan Agustus 2018 lalu. “Kami harus melakukan pengembangan terhadap tersangka lain, itu pun harus cukup bukti,” ujarnya.

Terlebih, kata dia, terduga sudah meninggal dunia maka kasusnya akan gugur demi hukum dan tidak bisa dilimpahkan kepada ahli warisnya.

“Intinya saat ini kasusnya masih berproses dan kita sudah memeriksa 38 orang saksi yang dipastikan akan bertambah sehingga tidak ada target waktu penyelesaian kasus,” pungkasnya. (d/KB)