Petani Panen Raya, Sayang Harga Buah Lokal Merosot

Tabanan
Foto: Seorang saudagar manggis tampak memilah-milah buah yang akan dia beli.

TABANAN, Kilasbali.com – Panen raya buah lokal seperti durian, manggis, ceroring hingga salak, ternyata jauh panggang dari api, alias tidak sesuai dengan harapan. Pasalnya harga jual buah – buahan ini merosot jauh turun, akibat dampak dari pandemi Covid-19.

Seperti halnya petani buah lokal di Desa Munduk Temu, Tabanan. Pandemi virus corona menyebabkan ekspor manggis dibatasi. Parahnya, harga lokal juga ikut turun.

Seorang petani di Desa Munduk Temu, I Nyoman Wintara menuturkan, biasanya harga manggis super bisa Rp 20 ribu perkg, tapi sekarang hanya Rp 12 ribu perkg. Sedangkan yang BS (manggis tidak layak ekspor) hanya Rp 5 ribu perkg ditingkat petani, biasanya Rp 12 ribu sampai Rp 15 ribu.

Baca Juga:  Aparat Desa Sidakarya Bina 5 Pelanggar Prokes

“Sebenarnya ada Karya Ida Betara Turun Kabeh di Besakih yang berlanngsung satu bulanan, entah berapa manggis yang bisa terserap, tapi karena situasi seperti ini ya mau bagaimana lagi. Jangankan karya, rainan purnama dan tilem saja sekarang sepi, orang-orang tidak ada yang keluar,” tuturnya.

Kendatipun demikian, setitik harapan muncul dari sejumlah pemuda yang bekerja disektor pariwisata kemudian dirumahkan, mencoba memasarkan buah-buahan secara online. “Ini sangat membantu, karena memang ada beberapa orang yang datang langsung untuk membeli buah kesini,” sambungnya.

Mantan Perbekel Desa Munduk Temu itu pun berharap pemerintah bisa memberi perhatian lebih kepada para petani manggis, di mana Desa Munduk Temu dan sekitarnya seperti Desa Kebon Padangan, Pajahan, dan desa-desa lain di Kecamatan Pupuan termasuk daerah penghasil manggis terbaik di Tabanan. (D*/KB)