Petani Rosela Tetap Sumringah di Masa Pandemi

Denpasar

DENPASAR, Kilasbali.com – Di masa pandemi Covid-19 yang menyebabkan semua sektor ekonomi terpuruk, ternyata tidak menyurutkan semangat petani rosela untuk berproduksi.

Seorang petani asal Desa Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur, Made Tanu mengatakan menanam rosela kini makin menjanjikan. Rosela saat ini semakin dikenal oleh para pemburu teh. Bahkan di beberapa cafe banyak yang menyediakan teh rosela ini.

Made Tanu menuturkan di lahan yang ia sewa, dirinya menanam rosela, serta menanam padi dan jagung. Awalnya, ia ingin menanami lahan yang disewanya dengan ubi kayu dan sereh. Namun, seorang WNA Italia yang kebetulan jalan-jalan di sawah tersebut menawarkan dirinya untuk menanam rosela.

Baca Juga:  Jabar-Bali Luncurkan Program Beli Bali

Ia pun menyanggupi setelah WNA yang sudah tinggal lama di Bali ini menjanjikan akan membantu memasarkannya.

“Sejak 20 Februari 2021 saya mulai menanam rosela selain menanam padi dan jagung,” sebutnya, Sabtu (4/9/2021).

Ia mengatakan, dirinya menanam rosela di lahan seluas 70 meter persegi, hasilnya ia dapat memanen kelopak buah rosela sebanyak 17 kali dan mendapat Rp 3.2 juta.

Masa panen rosela ini singkat yakni hanya 9 minggu dari mulai dibibit. Saat ini ia sudah menanam rosela pada lahan seluas 12 are.

Untuk sekali panen, Made Tanu bisa mengantongi Rp 600 ribu per minggu untuk rosela basah. Sementara harga rosela basah sebesar Rp 10 ribu per kilo gram. Sedangkan untuk rosela kering dirinya menjual Rp 60 – 90 ribu per kilo gram.

“Rosela kering digunakan sebagai teh, kosmetik, selai, sirup dan bisa dirujak. Bagus juga untuk kesehatan,” imbuhnya.

Baca Juga:  Ada Laporan WNA Berulah di Masa Pandemi, Rumah Bule di Sanur Disidak

Dirinya menambahkan dalam sekali panen, ia bisa mendapat 3 sak kelopak buah rosela basah. Untuk satu sak setara dengan 25 kilogram.

Di Desa Kesiman Kertalangu saat ini
sudah ada 7 petani rosela dan dirinya merupakan petani pertama yang menanam rosela di wilayah tersebut. Menurutnya menanam rosela lebih menjanjikan daripada padi maupun jagung.

Baca Juga:  Bali Teratas Indeks Keterbukaan Informasi Publik

“Padi 4 bulan untuk satu are dapat Rp 250 hingga 270 ribu satu kali panen. Kalau rosela bisa dipanen beberapa kali dan sekali panen dapat Rp 250 ribu,” sebutnya.

Made Tanu juga menambahkan saat ini memang ada sedikit permasalahan terkait pembelian rosela basah karena adanya PPKM.

“Karena PPKM jadi kesulitan pendistribusian rosela basah, sehingga diminta yang kering. Sehingga saya mengeringkan rosela ini terlebih dahulu sebelum diambil pengepul,” imbuhnya.

Rosela ini selain untuk dijual, dirinya juga berkreasi dengan memproduksi sirup rosela yang ia jual sendiri Rp 20 ribu untuk satu botol sirup.(sgt/kb)