Pro Rakyat! Program Amerta Sangat Realistis

Denpasar Politik

DENPASAR, Kilasbali.com – Paslon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Nomor Urut 2, Gede Ngurah Ambara Putra – Made Bagus Kertha Negara (Paslon Amerta) menjawab secara lugas terkait programnya yang dituding tidak realistis oleh paslon lawan, dalam Debat terakhir Paslon Wali Kota dan Wakil Wali Kota periode 2020-2025, Sabtu 28 November 2020.

Dalam debat dengan mengangkat tema Sinergisitas Antara Pemerintah Kota dengan Provinsi dan Pusat, paslon lawan menilai program Amerta tidak realistis terkait dengan program santunan untuk sekaa teruna, banjar, prajuru Desa Adat, PKK, kelahiran dan kematian.

Ngurah Ambara menegaskan, meskipun APBD Kota Denpasar defisit Rp 100 miliar, namun bagi Amerta masih banyak potensi yang bisa digali dan ditumbuhkembangkan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Denpasar. Untuk mendukung program pro rakyat itu, pihaknya melakukan efisiensi anggaran dan menghilangkan kegiatan seremonial yang menghabiskan banyak biaya.

Amerta juga optimis anggaran bantuan bisa diperoleh dari penerapan digitalisasi pendapatan daerah secara terintegrasi.

Debat Paslon Denpasar

“Mereka (paslon lawan-red) condong untuk menerima keadaan daripada membangun pendapatan supaya lebih meningkat, seperti memakai digitalisasi seperti yang dilakukan kota-kota lainnya yang bisa meningkatkan PAD. Kami komitmen memanfaatkan digitalisasi terintegrasi untuk menggali potensi-potensi yang ada di Kota Denpasar untuk meningkatkan PAD,” tegas Ngurah Ambara di Denpasar, Minggu (29/11/2020).

Paslon Amerta yang dikenal Satya Wecana dan Satya Laksana ini menegaskan jika dipercaya memimpin Kota Denpasar, mereka komitmen akan membuat perubahan lebih baik bagi Kota Denpasar seperti aspirasi dan harapan sebagian besar masyarakat.

Paslon Amerta yang berlatar belakang pengusaha ini akan berupaya menggenjot PAD untuk memajukan pembangunan Kota Denpasar dengan menutupi kebocoran-kebocoran yang ada.

Paslon Amerta menilai aneh jika Denpasar masih tertinggal maju dari Kabupaten Gianyar yang Pendapatan Asli Daerah (PAD) malah lebih besar dibanding Denpasar.

Ngurah Ambara pun menuding telah terjadinya kebocoran pendapatan dari seluruh pasar yang dikelola Pemkot selama ini. Padahal, dengan 16 pasar tradisional yang ada seharusnya uang Kota Denpasar melimpah.

Paslon Amerta yang diusung Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Partai NasDem pada kesempatan ini mempertanyakan rendahnya pendapatan pasar yang dikelola PD Pasar.

Menurutnya, pasar tradisional menjadi indikator menggeliatnya perekonomian daerah. Apalagi di pasar tradisional terdapat UMKM yang kedepannya harus terus digenjot dan diperhatikan melalui visi misinya untuk bisa mewujudkan Denpasar Berseri (Bersih, Sejahtera dan Indah berlandaskan Tri Hita Karana), Smart City, Berbudaya, dan Berdaya Saing. Dengan menggeliatnya UMKM, maka dapat mengurangi jumlah pengangguran di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

Calon Wakil Wali Kota Denpasar, Made Bagus Kertha Negara menambahkan Kota Denpasar sangat perlu adanya perubahan. Salah satunya, yakni manajemen tata kelola pemerintahan harus berbasis digital. Karena pemerintahan yang dijalankan dengan model digitalisasi akan berjalan lebih efektif, efisien, akuntabel dan transparan. Apalagi Kota Denpasar menuju Kota Metropolitan berbasis digital, sehingga kota Denpasar bukan saja dikenal sebagai Kota Budaya, namun juga sebagai kota metropolitan digital.

“Sebagai kota metropolitan, maka tata kelola pemerintahan akan dibangun berbasiskan digitalisasi terintegrasi di semua aspek kehidupan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat termasuk untuk mengurangi kebocoran-kebocoran PAD Kota Denpasar,” pungkasnya. (tim/kb)