Rektor Undwi: Agribisnis Harus Dibangun dari Hulu ke Hilir

Denpasar Ekonomi Bisnis Pendidikan
Foto: Peserta seminar berfoto bersama.

DENPASAR, Kilasbali.com – Agribisnis merupakan suatu konsep yang utuh dan menyeluruh mulai dari persiapan produksi, proses produksi, pengolahan produk, pemasaran produk dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan kegiatan pertanian. Karenanya agribisnis merupakan bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang mendukungnya, baik di sektor hulu maupun hilir.

Hal tersebut dikatakan Rektor Universitas Dwijendra Denpasar Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.MA., saat seminar “Membangun Agribisnis dalam Peningkatan Pendapatan Pertanian” yang digelar Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra Denpasar, Kamis (11/7/2019) di Aula Udyana Santhi Yayasan Dwijendra Denpasar. “Inklusi agribisnis harus dibangun dari hulu ke hilir secara terintegrasi dan berkelanjutan. Tidak bisa sepotong-sepotong,” katanya.

Menurutnya, yang paling penting juga adalah membangun model bisnis agar bisa mempertemukan para aktor di pasar. Ada petani, kelompok tani, pengusaha, ritel, pemerintah, NGO, lembaga keuangan dan lainnya.

“Jadi harus ada kesepakatan antar pihak, siapa melakukan apa. Peran masing-masing aktor di pasar harus jelas,” kata Dr. Sedana memiliki segudang pengalaman kerjasama program lembaga luar negeri ini seperti Bali Beach Conservation Project, Jepang (2001-2003) dan di AIP-Prisma, DFAT, Australia (2014-2017)

“Misalnya kelompok tani sediakan kopi berkualitas dalam hal volume. Perusahaan juga punya kewajiban membina pertani. Jadi ada kebersamaan diantara para aktor yang terlibat,” imbuhnya.

Dalam kesempatan ini Rektor Universitas Dwijendra ini juga memaparkan materi terkait bisnis inklusif kopi di Bali berdasarkan pengalamannya di Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pengelolaan bisnis inklusif kopi telah dilakukan di Manggarai yang diprakarsai dan diselenggarakan proyek AIP-PRISMA (Australia-Indonesia Partnership-Promoting Rural Income through Support for Markets in Agriculture) yang dimulai tahun 2014 sampai 2017.

Hal senada juga disampaikan Prof. Ir. I G. A.A. Ambarawati,M.Ec.,PhD., guru besar Program Studi (Prodi) Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana yang menjadi narasumber dalam seminar ini. “Kami ajak mahasiswa memahami sistem agribisnis sebagai pendekatan dalam pembangunan pertanian,” katanya sembari berujar, jadi tidak hanya tahu produksi tapi harus memahami pasar. Ada juga subsistem lainnya.

Dalam sistem agribisnis juga penting ada peran dan dukungan dari pihak terkait. Misalnya pemerintah atau regulator wajib mengeluarkan kebijakan yang mendukung perkembangan ekosistem agribisnis ini. Aktor lainnya seperti pihak lembaga keuangan seperti perbankan yang bisa memberikan akses permodalan. Begitu juga akademisi, lembaga riset, hingga perusahaan teknologi yang mendukung pertanian atau agribisnis.

“Harus ada teknologi baru yang bisa diadaptasi untuk menciptakan inklusi agribisnis,” kata Prof. Ambarawati.

Namun diakui masih ada beberapa permasalahan klasik untuk mewujudkan inklusi agribisnis ini. Seperti persoalan pemasaran. Dikatakannya, permasalahan klasik tidak ada pasar. Padahal dalam pengembangan agribisnis dan rantai nilai, harus tahu siap konsumen dan pangsa pasarnya. Untuk itu berbagai persoalan yang ada diharapkan dapat dicarikan solusi bersama para aktor atau stakeholder yang terlibat dalam ekosistem agribisnis ini.

“Kami juga harapkan mahasiswa yang dari daerah Timur paham betul tentang agribisnis ini dan bisa mengembangkannya saat mereka kembali ke daerahnya,” tandas Prof. Ambarawati.

Dalam seminar yang menghadirkan narasumber Prof. Ir. I G. A.A. Ambarawati,M.Ec.,PhD., guru besar Program Studi (Prodi) Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana dan Rektor Universitas Dwijendra Denpasar Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.MA., dengan moderator Ni Made Intan Maulina, S.P., M.P. Hadir pula Dekan Fakultas Pertanian Ir. Ni Ketut Kariati, bersama para dosen dan mahasiswa peserta seminar. (jus/kb)