Sanggar Laras Keratuan Manggis, Geliatkan Puri Agung Gianyar

Gianyar Seni Budaya
Foto: Anak-anak sanggar Keratuan Manggis melakukan latihan di halaman belakang Puri Agung Gianyar beberapa waktu lalu

GIANYAR, Kilasbali.com – Puri Agung Gianyar yang sebelumnya terkesan sepi dan pingit, kini dipastikan akan menggeliat dengan aktivitas seni dan kebudayaan. Karena atas restu palingsir puri, sejumlah seniman di Gianyar berkumpul membentuk sanggar kesenian yang dipusatkan di Puri Agung Gianyar. Sanggar kesenian tersebut dinamakan Sanggar Laras Keratuan Manggis.

Ide ini, digagas oleh Anak Agung Gede Abi Dama salah satu generasi muda Puri Agung Gianyar. Tidak tangung-tangung, tokoh muda ini melibatkan seniman-seniman di kota Gianyar, Sukawati, Blahabtuh dan beberapa dari tokoh seni dari Gianyar.

Harapannya, keberadaan sanggar ini akan mengelitakan kembali kesenian di Puri Agung Gianyar. “Dulu ikon seni kan ada di puri-puri, termasuk di Puri Agung Gianyar. Karena itu kami ingin menghidupkan peranan puri ini,” ujar Anak Agung Gede Abi Dama, Selasa (6/4/2021).

Baca Juga:  PLN Gelar Kompetisi dan Inovasi Kelistrikan, Dorong Pengembangan UMKM dan Industri Agrikultur

Agung Abi yang juga Keponakan Wakil Bupati Gianyar dan mantan Bupati Gianyar ini mencita-citakan sanggar yang dibentuknya ini menjadi wahana pembelajaran kesenian, seperti seni tari, kerawitan dan kontenporer.

Hingga saat ini, sebutnya sudah ada 300 anak-anak SD dan SMP Sejebag Jro kuta (Samplangan, Abianbase, Beng, Bitera, Tegal) tergabung di sanggar dibantu 15 pelatih, ada pelatih otodidak, ada dari akademisi, Semua palatih dari Gianyar.

Saat ini lokasi latihan berada di halaman belakang puri atau pintu masuknya di utara Alun-Alun Gianyar. Namun ke depan lokasi latihan akan dilakukan di ancak saji setalah ada renovasi.

Baca Juga:  Apel HUT Kota Gianyar Ke-250 Hanya Diikuti Beberapa Perwakilan OPD

Disebutkan, sejak dulu  kegiatan seni ini sudah ada di Puri Agung Gianyar dengan mendatngkan Seniman-seniman tua. Bahkan termasuk mantan Bupati Gianyar yang kini berabhiseka Ida Bhagawan (Anak Agung Bharata) sempat mendapat pelatihan langsung oleh seniman Gianyar, I Teduh, Kak Rina dan lainnya.

“Sanggar ini non profit, sanggar bisa diundang untuk ngayah ke desa adat. Sebagai bagian mempererat hubungan puri dengan masyarakat. Mengenang leluhur memalui jalan seni dan budaya,” harapnya.

Uniknya dalam beberapa sesi latihan di Sanggar Keratuan Manggis itu salah satu Gong (gambelan) yang digunakan adalah gong kuno berumur ratusan tahun hadiah dari Ratu Mengwi sebagai tanda persahabatan.

Baca Juga:  Pantau Kegiatan Shalat Tarawih, Ini Arahan Dandim Gianyar

“Itu zaman I Dewa Manggis Dimadya retang waktu 1793-1820. Sebagai persahabatan karena diundang saat menari gambuh,” jelasnya.

Bedanya dengan gong pada umumnya, terletak pada jumlah daunya. Gong tersebut daunya lima belas. Selain itu diberikan juga gelungan Gambuh bertatahkan emas yang hingga saat ini masih tersimpan di Puri Agung Gianyar.

“Karena persahabatan baik, diberikanlah gong itu dan gelungan gambuh dari bahan mas serta bebandrangan. Hasil rekontruksi dari para seniman di Singapadu gong tersebut dinamakan Semara tetangian yang dimainkan saat raja baru bangun,” pungkasnya. (ina/kb)