Sekuni Sajikan “Ileh Aluh Elah”

Denpasar Seni Budaya
Foto : Komunitas Sekuni dalamm karya Ileh Aluh Elah, di Panggung Terbuka Madya Mandala.

DENPASAR, Kilasbali.com – “Ileh Aluh Elah” judul garapan tari kontemporer itu tak hanya menjadi label dari penampilan Seniman Klungkung Berani (Sekuni), tetapi juga sarat pesan.

Komunitas dari Bumi Serombotan itu mengajak masyarakat khususnya dari kalangan generasi muda agar selalu menjadikan tradisi sebagai dasar untuk menuju pada kebiasaan modern atau kontemporer.

Komunitas yang didukung 33 anak muda ktreatif itu tampil pada acara Adilango (pagelaran) dalam Festival Seni Bali Jani 2019 di Kalangan Madya Mandala Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (2/11/2019).

Komunitas Sekuni yang berdiri tahun 2017 itu menampilkan penari-penari yang memiliki dasar tari serta olah tubuh yang kuat. Mereka sangat lihai mengolah tubuhnya, memainkan ritme, hingga melakukan penuh ekspresi, sehingga menjadi perhatian pengungjung festival di sore itu.

“Melalui garapan ini, kami ingin mengingatkan anak-anak muda agar jangan melupakan seni tradisi. Seni tradisi yang kaya nilai-nilai dan simbol-simbol kehidupan itu dikuatkan dulu, baru belajar seni modern,” kata Agung Putra Dalem, koreografer yang juga Sektetaris Sekuni.

Menurut Agung Dalem begitu sapaan akrannya, dalam garapan itu dirinya ingin menyesesuaikan dengan tema Festival Seni Bali jani “Hulu-Teben, Dialektika Lokal-Global”. Artinya, dirinya mengajak anak-anak muda jangan melupakan hulu, seni tradisi itu untuk menuju teben, seni modern.

“Untuk mempelajari seni modern, kontemporer atau tari gendre yang lain itu, terlebih dahulu harus menguasai dan menguatkan diri dengan seni tradisi. Dengan mengetahui paileh, maka aluh (gampang) dan elah (gampang) melakukannya,” paparnya.

Jika belajar tari kontemporers terlebih dahulu, baru kemudian menekuni seni tradisi, maka pasti terasa lebih susah. Kalaupun mampu melakukan gerak tari sesuai dengan metode tari, tetap saja terkesan kering. Intinya, kuatkan seni tradisi dulu, baru pindah ke gendre tarian lain. Dengan begitu, pasti menjadi lebih kuat, bahkan memiliki sesuatu yang lebih dan tampil beda.

“Itulah pesan yang ingin kami sampaikan dalam pertunjukan tari kontemporer berjudul “Ileh Aluh Elah” ini,” tegasnya.

Garapan tari kontemporer ini diawali dari penampilan anak-anak belajar menari dengan tidak melupakan tradisi. Mereka belajar kesenian khususnya tari Bali, mulai dari sikap dasar, perbendaharaan gerak tari, hingga mengolah gerak tubuh dengan rasa.

Mereka belajar tari klasik hingga tari popular. Pada plot kedua, muncul anak-anak yang bergaya modern tidak mau belajar seni tradisi. Mereka langsung mempelajari seni kedalam bentuk kontemporer. Gerak dan olah tubuhnya memang indah, namun seakan tidak ada rasa dan mengesampingkan etika.

Pada plot selanjutnya, menggambarkan anak-anak muda yang getol dan benar-benar masuk dalam seni tradisi. Setelah terasa kuat, baru mempelajari dan masuk ke hal-hal kontemporer atau tarian genre lainnya.

Penari anak-anak juga ikut muncul dalam plot ini membawa berbagai busana tari yang saat itu membawa busana Tari Baris Tunggal, sebagai dasar mempelajari tari putra. “Hal itu untuk menyampaikan pesan untuk mengingatkan pada seni tradisi,” jelas Agung Dalem.

Pada bagian terakhir, menggambarkan belajar paileh semua tarian tradisi, sehingga aluh baan ngabetang (mudah melakukan) dan hasilnya akan elah (gampang, lues) dalam melakukannya. Tari kontemporer itu diiringai iringan music midi yang direkam, sebelum melakukan tampil dalam pentas.

Agung dalem mengaku, Komunitas Sekuni berdiri 2017, berawal dari perkumpulan anak-anak pendukung Pesta kesenian Bali (PKB). Walau namanya, Seniman Klungkung Berani, namun dirinya tidak pernah mengatas namakan diri sebagai seniman.

“Kami hanya pelaku seni yang menjadi kan hal ini sebagai penyenang hati. Kami bukan komunitas anak-anak seniman. Nama itu diberikan agar bisa komunitas ini melejit dan cepat terkenal,” imbuhnya.

Menurut Sekuni sebagai salah satu tokoh dalam ceritera Mahaberata yang terkenal sebagai tokoh berkarakter licik dan tidak bermoral. “Kami mengambil dari sisi baiknya. Sifat Sekuni itu kan tidak semuanya buruk. Dia juga cerdas dan cerdik. Jika ingin melakukan sesuatu, ia mampu memikirkan dengan cepat dan meyakinkan,” tutupnya.

Selain Adilango, Festival Seni Bali Jani yang digagas Pemerintah Provinsi Bali itu juga diisi dengan kegiatan Pawimba (Lomba), Aguron-guron (Workshop), Kandarupa (Pameran), Tenten (Pasar Malam Seni), dan Timbang Rasa (Sarasehan) yang selalu mengajak generasi muda untuk lebih kreatif. (rls/kb)