Sesuhunan Pakudui “Tedun” ke PN Gianyar

Gianyar Peristiwa
Foto: Sesuhunan Pakudui saat "tedun" ke PN Gianyar.

GIANYAR, Kilasbali.com – Ada yang unik dalam sidang di PN Gianyar, Kamis (1/8/2019). Dengan iringan gambelan balagenjur, sesuhunan berupa pretima pura ‘lunga’ atau tedun ke PN Gianyar.

Benda yang disakralkan ini sengaja disertakan oleh krama Banjar Pakudui Kangin atau Desa Pakraman Persiapan Puseh Pakudui, Desa Kedisan untuk nodia atau menyaksikan proses negosiasi menjelang eksekusi.

Dengan menggunakan dua truk, iringan sesuhunan Pura Puseh Banjar Pakudui Kangin, berhenti di depan PN Gianyar Sekitar Pukul 09.00 WITA. Karena parkir penuh, ronbongan yang disertai gambelan baleganjur itupun bergeser ke depan toko modern.

Teriakan histeris pegawai toko yang kesurupunn pun menyambut, saat pretima sakral itu diturunkan dari truk. Kedatangan warga yang membawa benda sakral ini, kontan saja membuat petugas PN Gianyar kebingungan.

Saat memasuki areal PN Gianyar, iringan ini sempat dihentikan. Petugas PN khawatir jika usungan pretima ini terganggu, karena tidak memiliki tempat yang layak.

Namun, krama tetap ngotot dan akhirnya masuk ke areal PN dan mengambil posisi di depan Padma Kantor PN. Namun pretima tetap di pundut/ditandu krama.

“Pretima ini disucikan, kami tidak jngin nantinya disalahkan jika terjadi apa-apa. instansi manapun saya kira tidak memiliki tempat yang layak untuk pretima yang disakralkan ini,” ungkap humas PN Gianyar, Wawan Edi Prasetiyo.

Jero Mangku Puseh Pakudui Kangin mengatakan, keputusan krama untuk menyertakan pretima ini, lantaran objek yang disengketakan adalah laba pura.

Pihaknya tidak ingin pelaksanaan eksekusi nantinya berimbas pada pelakasaan upacara di desannya. Apalagi, lahan yang disengkatan ini adalah milik pura yang juga ada kuburan dan fasilitas adat lainnya.

“Laba ini ada duwen (milik) Ida Sesuhunan. Karena itu, Ida Sesuhunan kita iring lunga ke pengadilan,” jelas mangku.

Sementara dari hasil sidang anmaning, majelis hakim memberikan waktu delapan hari kepada termohon dan pemohon eksekusi untuk bernegosiasi.

Sebagaimana diketahui, dalam kasus sengketa tanah laba pura ini melibatkan pemohon I Ketut Karma Wijaya dan lain-lain selaku Prajuru Adat Desa Pakraman Pakudui, dengan termohon I Wayan Sama dan lain-lain selaku Prajuru Adat Desa Pakraman Persiapan Puseh Pakudui.

Eksekusi didasari putusan PN Gianyar tanggal 19 September 2012 No 09/Pdt.G/2012/PN.Gir yang dikuatkan oleh putusan Pengadilan Tinggi Denpasar tanggal 29 April 2013 No 41/PDT/2013/PT.DES dan dikuatkan lagi oleh Putusan MA RI tanggal 22 Mei 2014 Nomor : 2421/PDT/2013. Kasus ini dimenangkan di MA oleh pemohon. (ina/kb)