Sikapi Kera Agresif, DLH Bakal Baka Lakukan Ini

Gianyar News Update
Foto: Kera Petanu yang meresahkan petani di Kemenuh
  • Pelantikan Bupati Jembrana

  • Pelantikan bupati tabanan 2021
  • Pelantikan bupati tabanan 2021
  • Pelantikan bupati tabanan 2021

GIANYAR, Kilasbali.com – Menyikapi keresahan warga kemenuh lantaran Kera Tukad Petanu yang jadi Hama perkebunan, DLH pun bakal turun lapangan (Turlap).

Terlebih, kecenderungan kera-kera ini yang agresif, berpotensi menimbulkan korban. Turlap ini dimaksud untuk mencari penyebab utama kera tersebut keluar habitat untuk mencari pakan.

Kepala DLH Gianyar, Ni Made Mirnawati, mengakuai telah mendapatkan laporan hama kera di DAS Petanu yang meresahkan warga atau petani di Desa Kemenuh, Sukawati.

“Kami sudah siapkan tim untuk ke lapangan. Kami coba untuk mencari akar penyebab kera-kera tersebut sampai keluar habitat mencari pakan,” jelas Mirnawati, Selasa (16/2/2021).

Baca Juga:  Petani Bali Harus Jadi Tuan Rumah di Wilayah Sendiri

Disebutkan, umumnya kera bermigrasi di alam bebas pada dasarnya karena kurangnya sumber pakan dan àterjadinya peningkatan populasi.

Bila dikaitkan dengan pariwisata, dimungkinkan saat pariwisata masih hidup normal, ada kemungkinan kera-kera tersebut terbiasa hidup dimanja dengan diberikan pakan.

Sedangkan saat ini pariwisata mengalami drop, sehingga kegiatan pemberian pakan juga mengalami penurunan.

“Namun demikian, kami akan tetap mencari persoalannya. karena tidak tertutup kemungkinan ada faktor lain yang mendukungnya, seperti faktor alam dan cuaca,” terangnya.

Lanjutnya, kurangnya sumber pakan salah satu penyebab utama kelompok kera yang tidak dominan atau kalah kuat dari kelompok lainnya akan berpindah tempat.

Baca Juga:  Diduga Depresi, WNA Meditasi di Gubuk Petani Hebohkan Warga

Demikian juga bila populasi meningkat dipastikan akan ada kelompok kera yang migrasi.

Pada tempat baru, bila kesulitan menemukan pakan maka akan menggunakan sumber pakan dari tanaman dan buah yang ditanam masyarakat.

“Bila sumber pakan dari alam terbatas, akan masuk akal rusaknya habitatnya menyebabkan dia bermigrasi,” terangnya lagi.

Terlepas dari ada kaitannya sumber pakan dengan kerusakan habitat, bila di lapangan dijumpai masih ada penambangan batu padas, DLH akan berkoordinasi dengan Dinas Perijinan, Satpol PP dan instansi terkait untuk menghentikan kegiatan penambangab batu padas ataupun pasir.

Baca Juga:  Anggota Polda Bali Divaksin Covid-19

“Di sepanjang DAS Petani tidak ada izin untuk penambangan apapun,” tegasnya.

Pada prinsipnya habitat kera di sepanjang DAS Petanu, sebutnya tidak boleh terganggu.

Di samping itu, solusi yang diambil nantinya tidak merugikan warga dan kelestarian alam tetap terjaga.

Sedangkan bila kera tersebut keluar habitat akibat berkurangnya habitat kera, menurutnya DLH bersama desa setempat akan mengembalikan kondisi habitatnya.

“Memang kita tidak bisa sikapi sekaligus, namun paling tidak luas habitatnya masih bertahan seperti semula,” pungkasnya. (ina/kb)