Tata Rias Pengantin Bali Alami Perkembangan Pesat

Denpasar
Foto: Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster saat menghadiri Musyawarah Daerah ke-5 DPD Tiara Kusuma dilaksanakan Minggu (8/3/2020) di Ballroom Quest Hotel Denpasar.

DENPASAR, Kilasbali.com – Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri Musyawarah Daerah ke-5 yang dirangkai dengan pelantikan pengurus Persatuan Ahli Kecantikan dan Pengusaha Salon Indonesia yang tergabung dalam wadah DPD Tiara Kusuma Provinsi Bali. Musda dan pelantikan pengurus DPD Tiara Kusuma dilaksanakan Minggu (8/3/2020) di Ballroom Quest Hotel Denpasar.

“Setidaknya ada tiga organisasi yang mewadahi para ahli tata rias dan pengusaha salon yaitu Asosiasi Rias Pengantin Modifikasi dan Modern Indonesia (Katalia), Himpunan Ahli Tata Rias Pengantin Indonesia (Harpi Melati) dan Tiara Kusuma yang mewadahi para ahli kecantikan dan pengusaha salon. Ketiga organisasi itu saya harapkan dapat melaksanakan tugas dan tangung jawab, tetap bersinergi dengan program pemerintah,” katanya.

Dalam berkreatifitas, Istri Gubernur Bali ini berharap, mereka yang bergerak dalam usaha salon dan tata rias berpedoman pada dua hal, yaitu upaya pelestarian dan pengembangan budaya Bali. “Jangan sampai keduanya berbenturan. Ketiga organisasi harus bersinergi dalam dua ruang ini yaitu pelestarian dan pengembangan,” harapnya.

Baca Juga:  Penambahan Kasus COVID-19 Terkonfirmasi Positif 1.447, Meninggal 53 dan Sembuh 651 Orang

Seniman multi talen inipun mengaku telah mengamati, tren tata rias, khususnya tata rias pengantin Bali mengalami perkembangan yang sangat pesat. “Saya berharap, mereka yang bergerak di bidang usaha tata rias tetap berpedoman pada adat dan tradisi, khususnya bila riasan dan busana itu dikenakan untuk ranah adat. Dalam tata rias pengantin Bali, leluhur telah mewariskan etika berbusana yang sangat elegan dan penuh estetika yang dibagi dalam beberapa tingkatan, yaitu payas agung dan madya. Riasan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki telah ada pakemnya, dan bila diikuti akan menghasilkan tata rias yang anggun,” ujarnya.

Dengan alasan memenuhi permintaan pengantin, kata dia, belakangan banyak tejadi modifikasi dalam tata rias dan penggunaan busana adat Bali, misalnya penambahan jubah yang sangat panjang hingga memenuhi halaman rumah, tinggi bunga juga terkadang tidak mengindahkan ukuran wajah si pengantin hingga kemudian menimbulkan hal yang tidak pas dan secara estetika sangat mengganggu. Bila aturan tata rias yang diwariskan leluhur diindahkan, tata rias pengantin Bali sebenarnya sudah pas dengan pemakainya. Landasan seorang perias adalah etika, estetika dan norma. “Dalam penggunaan busana pengantin, penglingsir juga sudah memperhitungkan mana wilayah seksi. Jadi seksi itu tidak harus memperlihatkan kulit ari,” ungkapnya.

Untuk itu, dirinya berharap kepada mereka yang bergerak di bidang tata rias, ikut memikul tanggung jawab pelestarian. Modifikasi jangan kebablasan hingga anak cucu tak mengenal lagi payas Bali. Dirinya tidak mengekang kreatifitas dan kemajuan di bidang tata rias, namun ranah penggunaannya harus tepat. Untuk ranah adat, harus tetap lestari sesuai pakem.

Baca Juga:  Cegah Terpapar, Disiplin Ikuti Protokol Kesehatan dan Jaga Jarak

Putri Koster pun mendorong adanya FGD tiga organisasi yang begerak dalam usaha tata rias dan salon sehingga ada satu pemahaman dalam upaya pelestarian dan pengembangan. OPD terkait juga diminta merancang payung hukum agar keberadaan seluruh pengusaha salon dan tata rias bisa diwadahi untuk mencegah perang harga. Selain itu, payung hukum ini juga dibutuhkan untuk mencegah malpraktek dalam dunia kecantikan, karena belakangan banyak wanita yang ingin kulitnya jadi lebih putih atau hidung mancung. Padahal belum tentu sebuah produk yang ditawarkan salon kecantikan aman bagi mereka. Yang ada, bukannya tambah cantik, tapi malah sebaliknya.

Baca Juga:  Zona Merah, Kesmas Sukawati I Ditutup

Masih terkait busana pengantin, Putri Koster juga minta kepada pelaku usaha tata rias yang menyewakan busana agar menggunakan kain songket hasil tenun, bukan bordiran yang belakangan banyak beredar di pasaran. “Kita harus ambil bagian dalam upaya pelestarian tenun tradisional Bali,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua DPD Tiara Kusuma Bali Periode 2020-2024 Dra. Ni Ketut Sriati Dana mengajak seluruh anggotanya untuk bersama-sama bekerja sesuai dengan tupoksi yang didasari rasa tulus iklas. Sedangkan Kadis Pendidikan Provinsi Bali yang diwakili Sekretaris Dinas Pendidikan Ketut Sudarma meminta pengusaha yang bergerak di bidang salon dan tata rias mengangkat kearifan lokal dalam karya mereka. (rls/kb)