Terungkap Ini Dalam Rekontruksi Pembunuhan Dadong Mintan

Buleleng
Pelaku saat melakukan reka ulang

BULELENG, Kilasbali.com – Isak tangis Luh S merupakan keponakan korban Ketut Mintaning alias dadong (nenek) Mintan (66) mewarnai rekonstruksi (reka ulang) kasus penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Reka ulang itu berlangsung di Tempat Kejadian Perkara (TKP) rumah korban di Jalan Pulau Natuna, Kelurahan Penarukan, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Kamis (29/4/2021) sekitar pukul 10.00 WITA.

Dalam reka ulang yang juga dipadati warga, pelaku Yoni Jatmiko alias Yoni (29) asal Desa Mlijeng, Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, melakukan reka ulang sebanyak 45 adegan.

Baca Juga:  Warga Tukadmungga Lestari Keluhkan Sosialisasi Vaksinasi, Ini Jawaban Perbekel

Seizin Kapilres Buleleng, Kapolsek Kota Singaraja, Kompol Dewa Ketut Darma Aryawan menjelaskan, rekonstruksi dilakukan untuk memastikan tindakan penganiayaan hingga korban meninggal dunia.

“Dari rekonstruksi ini terungkap, tersangka tersinggung ucapan cicing (anjing) oleh korban pada adegan ke-3, dan korban meregang nyawa akibat kepala membentur lantai saat terjatuh karena didorong tersangka pada adegan ke-30,” ungkap Kapolsek Aryawan.

Imbuh Kapolsek Aryawan, rekrostruksi yang melibatkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan Pendamping Hukum tersangka ini, bertujuan untuk menyinkronkan keterangan tersangka di BAP dengan kondisi di lapangan.

Baca Juga:  Warga Tukadmungga Lestari Keluhkan Sosialisasi Vaksinasi, Ini Jawaban Perbekel

“Sebanyak 45 adegan rekonstruksi, semua diakui dan dilaksanakan tersangka di hadapan JPU dan pendamping hukumnya. Semua dilakukan sesuai dengan keterangan di BAP, tidak ada penambahan termasuk juga tersangka, hanya satu atau tunggal,” terangnya.

Selanjutnya penyidikan akan dilanjutkan dengan pemberkasan dan penyerahan BAP tahap I kepada JPU. “Kita berharap, penyidikan segera tuntas dan perkara ini bisa diserahkan kepada JPU,” jelasnya.

Surya Dilaga selaku Kuasa atau pendamping hukum tersangka membenarkan hal tersebut. Melalui rekonstruksi, perbuatan tersangka menjadi jelas. “Nantinya, bisa diupayakan hal-hal yang meringankan untuk dibuktikan di persidangan,” singkatnya. (ard/kb)