Tradisi ‘Nampah’ Kebo di Pandak Gede

Seni Budaya Tabanan
Foto: Suasana pemotongan kebo di salah satu regu di Pandak Gede.

TABANAN, Kilasbali.com – Pada umumnya umat Hindu di Bali pada saat penampahan galungan memotong babi, namun berbeda dengan Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, Tabanan, menjelang hari raya Galungan, warga menyembelih kerbau yang dikenal dengan tradisi Nampah Kebo.

Di mana tradisi nampah kebo ini sudah dilakukan oleh warga Pandak Gede sudah puluhan tahun. Dan berdasarkan tradisi, pada saat Hari Raya Galungan tidak nampah kebo maka dirasa belum lengkap.

Di mana tradisi nampah kebo ini biasanya dilakukan pada saat penampahan Galungan, pada hari Selasa. Namun saat ini warga nampah kebo pada hari Senin, pada hari Penyajaan Galungan dengan pada saat penampahan warga banyak ada kegiatan lain dalam menyiapkan upacara, maka segala urusan mengolah daging dilakukan pada hari Senin. Dimana untuk mendapatkan daging kebo ini, beberapa kelompok menyembelih kebo dan warga tinggal membeli disana.

Baca Juga:  Uji Publik DPS, KPU Tabanan Tindaklanjuti Temuan Bawaslu
Foto: Suasana pemotongan kebo di salah satu regu di Pandak Gede.

Salah satu Ketua Regu Nampah Kebo, I Gede Made Munia (75) menjelaskan, persiapan nampah kebo sudah dilakukan pukul 06.00 Wita, dan sekitar pukul 09.00 Wita daging sudah bisa diambil oleh warga yang memesan.

Menurutnya, Nampah Kebo sudah menjadi tradisi sejak puluhan tahun belakangan ini. Menurutnya, Nampah Kebo adalah ciri hari raya Galungan bagi warga Pandak Gede. Apabila tidak dilaksanakan, warga merasa seperti tidak merayakan hari raya Galungan.

“Nampah kebo ini rutin dilakukan pada saat hari raya galungan dan nampah kebo ini sudah menjadi bagian dari tradisi Desa Pandak Gede, yang tidak ada di daerah lain,” jelasnya, saat ditemui disela-sela motong kebo, Senin (14/9/2020).

Baca Juga:  Sekda Bali; Perhatian Pada Petani Jangan Sebatas Sanjungan

Munia memaparkan, pasa saat pandemi Covid-19 ini, awalnya pihaknya ragu untuk motong kebo, karena takut kalau nanti dagingnya tidak ada yang membeli, karena dampak ekonomi akibat Covid-19. Karena biaya untuk memotong kebo ini cukup besar, dan pihaknya nanti takut rugi.

Foto: Suasana pemotongan kebo di salah satu regu di Pandak Gede.

“Awalnya takut motong kebo, namun setelah dikontak langganan kita, ternyata banyak yang minta, habis itu baru kami berani membeli kebo,” tambahnya.

Ditambahkan, untuk harga satu ekor kebo yang dipotong kali ini ukuran tanggung dengan harga Rp 22 juta rupiah. Dimana pihaknya menjual daging kerbo per ponjok atau per tanding dengan harga Rp. 300.000. Dan untuk satu kebo kali ini dijual menjadi 90 ponjok.

“Biasanya kalau tidak ada covid kita membeli kebo yang besar untuk dipotong, atau kebo yang ukuran tanggung seperti ini dua ekor. Namun karena covid ini kita hanya berani memotong satu ekor ukuran tanggung,” lanjutnya.

Baca Juga:  Lepaskan Burung Tandai Pembukaan Kampanye Pilkada Tabanan 

Dikatakan Muni, selain digunakan untuk upakara saat Galungan, daging kebo juga dikonsumsi oleh warga, dijadikan berbagai olahan, mulai dari tum, lawar, hingga rawon. Agar tidak amis, daging kebo diisi daun tengulun. “Dagingnya kita gunakan untuk upacara. Setalah itu baru sisanya kita makan dan diolah sesuai selera,” pungkasnya.

Tradisi nampah kebo yang dilakukan oleh warga Desa Pandak Gede yang sudah dilakukan puluhan tahun ini tidak hanya untuk warga Pandak Gede sendiri, namun saat ini banyak warga dari luar desa bahkan dari luar Kabupaten Tabanan memesan daging kebo pada saat penampahan galungan di Pandak Gede. (tim/kb)