Trend Berkebun dan Bertani, Kompos TPA Temesi Diburu

Gianyar

GIANYAR, Kilasbali.com – Demam Berkebun dan bertani di Pandemi Covid 19, setidaknya menggugah masyarakat untuk kembali kepertanian dan perkebunan. Di Gianyar, demam berkebun dan bertani ini tidak saja dilakoni oleh para pekerja yang dirumahkan, namun juga dari kalangan generasi muda. Menariknya lagi, trend berkebun yang mereka terapkan berkonsep ramah lingkungan yang memantangi pupuk kimia, sehingga permintaan kompos pun meningkat tajam.

Pihak Yayasan yang mengelola Pemilahan Sampah d TPA Temesi, I Wayan Cakra mengatakan, proses produksi pemilahan hingga pengolahan sampah kiriman dari masyarakat menjadi pupuk organik atau kompos, hanya melibatkan sebagian pekerja, karen pembatasan di pandemi Covid-19 ini. Namun demikian, tuntutan produksinya justru meningkat seriring tingginya permintaan pupuk organik ini dalam sebulan terakhir. “Dibandingkan seblum wabah Pandemi Covid ini, permintaan kompos sanat meningkat. Banyak warga yang kini berkebun atau bertani. Tidak hanya meraka yang dirumahkan, justru dari kalangan anak-anak muda juga terjun ke sektor ini,” ungkapnya

Untuk pemilihan sampah, pihaknya melakukan pemilihan sampah sekitar 30 ton perhari dengan produksi sekitar 7 ton per hari. Selama ini pemasarannya tidak hanya kepada petani di Bali namun juga sampai ke pulau Jawa. Hanya saja, dalam kondisi sekarang, untuk memenuhi permintaan warga lokal saja mulai kewalahanan.

Baca Juga:  Dauh Puri Kaja Data 43 Penduduk Non Permanen

Namun demikian, pihak belum melakukan perhitungan mengenai prosesntase peningkatannya, tapi peningkatan sangat signifikan. Termasuk juga peningkatan pesanan dari wakil rakyat, yang akhirnya disumbangkan ke warga. “Tidak hanya warga, anggota dewan juga banyak yang melakukan pemesanan yang akan dibagikan ke masyarakt secara cuma-cuma sebagai langkah motivasi agar kembali ke sektor pertanian dan perkebunan,” ujarnya.

Baca Juga:  Kodim Gianyar Tebar 40 Ribu Ikan Lele di Batur Sari

Namun sayang, di tengah tingginya permintaan, kini pegawainya yang berasal dari luar Bali pulang ke dearah asalnya. Kini hanya mengandalkan pegawai asal Bali yang masih kerja sekitar 22 orang. “Dengan jumlah pekerja yang menurun ini, produksi kami juga menurun. Kini hanya bisa memproduksi 2 ton per hari,” terangnya.

Lanjutnya, Hasil produksi itu dijual ke masyarakat, dengan harga Rp 1.000 per kg. Selain itu ada juga yang digratiskan sebagai promosi. Tidak hanya itu pihaknya juga memberi diskon khusus, untuk generasi muda yang membutuhkan pupuk untuk bercocok tanam. Terutama STT kalau ada yang mau kami berikan diskon. ”Mengenai kualitas, produksi kami justru sangat diandalkan karena cocok untuk seluruh tanaman yang ramah lingkungan, untuk tanaman apapun yang penting di jaga kelembabannya,” yakinnya.

Baca Juga:  Layanan Penjor Langsung Pasang

Peningkatan permintaan pupuk organi ini juga diakui oleh Plt Kepala DLH Gianyar, I Wayan Kujus Pawitra. Bahkan banyak pihak yang melakukan permohonan bantuan pupuk ini ke DLH. Pihaknya pun mengkau sagat bangga dan mendukung generasi muda termasuk pekerja yang terdampak Covid-19 agar mulai bercocok tanam dengan memanfaatkan pupuk organik ini. Untuk memenuhi peminttan pupuk ini, pihaknya sudah meminta pihak yayasan untuk meningkatkan produksinya dan tetap mempertahankan kualitas.

“Kami sudah berkoordinasi, agar yayasan ini memberikan kemudahan kepada generasi muda yang membutuhkan pupuk kompos,” terangnya singkat. (ina/kb)