Turun Gunung Arja Sebunan Tua

Denpasar Seni Budaya
Foto: Sekaa Arja Putra Jelantik, Desa Apuan.

DENPASAR, Kilasbali.com – Seni klasik arja kembali ditampilkan di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 tahun 2019, Rabu (3/7/2019). Kali ini Sekaa Arja Putra Jelantik, Desa Apuan. Kecamatan Susut, Bangli yang tampil. Mereka menurunkan mayoritas pragina tua dan kawakan untuk memainkan lakon I Made Jar Pikatan.

Pragina-pragina Arja yang telah tergolong tua ini masih mampu tampil prima memesona penonton. Walau begitu soal umur tidak dapat diingkari. Itu terlihat ketika penampilan telah lewat satu jam. Mulai terlihat nafas pendek-pendek dari para pragina. Bahkan seorang penasar terpaksa menepi sejenak mengatur nafas sembari duduk walau begitu sang pensar tetap berdialog dengan lawan mainnya.

Dan, sesekali di beberapa dialog terlihat agak tertahan seperti mengingat-ingat. Memang kelemahan penampilan mereka (Sekaa Arja Putra Jelantik-red) adalah mereka perlu mengingat-ingat kembali dialog yang pernah mereka mainkan. “Itu karena mereka telah lama terpendam,” ulas pengamat seni Sang Ketut Sandiyasa alias Bli Gede Tembat (nama udaranya-red). Dibalik kondisi itu, Sandiyasa menangkap itu sekaligus menjadi kelebihan mereka, karena mereka adalah pemain-pemain kawakan yang sudah senior di Arja.

Soal umur yang sudah tua-tua dari sebagian besar pemain diakui kordinator pementasan arja dari duta Bangli, IB Kartika. “Tantangan kami selama persiapan adalah karena pemainnya sudah umur. Jadi kami perlu latihan sekitar 2,5 bulanan untuk menyiapkan pementasan ini,” terang Kartika.

Menurut Kartika, walau mereka sudah tua-tua, karena kecintaannya mereka pada seni Arja, mereka tetap bersedia tampil. “Jadi mereka yang sudah tua ikut tampil karena ingin dapat menjadi contoh ke anak generasi. Sehingga anak muda mau meneruskan Arja ini,” tutur Kartika.

Sandiyasa juga melihat tampilnya penari arja tua ini tak lepas belum terjadinya regenerasi penari arja di sekaa sebunan Putra Jelantik. “Ini tantangan seni arja ke depan. Bagaimana anak muda mau menekuni seni klasik Arja.
Dan menurut saya generasi berikutnya harus mencari acuan ke sini (penari-penari tua kawakan arja red). Bagaimanapun juga Arja itu bila tanpa ditarikan atau dibangun akan hilang selamanya,” ungkap Sandiyasa berharap Arja dapat lestari.

Demi melestarikan seni klasik arja, Sandiyasa, menyarankan pertama-pertama generasi muda perlu belajar metembang. Karena arja itu muatannya yang pertama itu metembang. Kalau anak-anak sudah senang mentembang dan ada unsur keturunannya maka arja tidak akan punah. “Pasti arja itu akan hidup kembali,” tegas Sandiyasa.

Cerita yang ditampilkan Sekaa Arja Putra Jelantik ini mengisahkan tentang I Made Jar Pikatan, seorang anak muda biasa yang sebenarnya adalah anak raja Kerajaan Jenggala Pura yang hilang di hutan ketika terjadi perang saudara antara kerajaan Jenggala Pura dan kerajaan Metaum Putra. Yang akhirnya diangkat kembali menjadi saudara raja kerajaan Metaum Putra. (kb)