BulelengSosial

Rawat Adik Lumpuh, Orangtua Sakit-sakitan

Widiadi : Makan Ngirit, Bantuan Rp 500 Ribu Pakai 3 Bulan

SINGARAJA, Kilasbali.com – Ujian berat tengah diemban Ni Ketut Widiadi (48). Perempuan asal Banjar Mayungan, Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali semula jadi tulang punggung keluarga itu, mesti tabah merawat kedua orangtuanya I Ketut Daweg (88) dan ibunya Ni Wayan Putresih (82) sedang sakit. Pun, kenyataan miris kondisi adik lelaki I Ketut Padma (39) alami kelumpuhan sejak lahir.

Ketika ditemui, kondisi fisik Widiadi nampak kurus seperti kurang tidur. Ia terlihat melamun seakan sedang memikirkan beban berat saat dikunjungi awak media kilasbali.com bersama Bhabinkamtibmas Aipda Nyoman Mas Surya di beranda rumah tak layak huni dinding bata mentah, beralas tanah.

Widiadi menuturkan, terpaksa memutuskan berhenti bekerja sebagai penjahit di Denpasar dua bulan lalu. Ia lantas pulang kampung ke Sudaji merawat adik yang terkulai lemah alami lumpuh dan kedua orangtuanya terbaring sakit.

“Sebelumnya, kakak perempuan (sulung) yang merawat bapak, meme (ibu) dan adik. Namun, kakak kemudian menikah dan harus mengurus anak. Ya, keputusan terpaksa berhenti kerja menjahit, meninggalkan penghasilan Rp 2,5 juta per bulan di Denpasar,” ucap Widiadi.

Mencukupi kebutuhan makan sehari-hari, Widiadi mengaku mengandalkan bantuan pemerintah Program Keluarga Harapan (PKH) berupa uang tunai Rp 500 ribu yang diterima per 3 bulan.

Selain itu, keluarganya pun menerima Bantuan Pangan Non Tunai ( BPNT) berupa beras 15 kilogram dan 1 krat telur per bulannya. Setiap hari, seluruh rutinitas pekerjaan dilakoninya, mulai gotong dan memandikan adik serta kedua orangtuanya secara bergiliran. Pun, menyuapi makan dan minum.

Baca Juga:  Apresiasi Kinerja Anggota KORPRI

“Gimana ya, syukur sudah dibantu pemerintah. Pokoknya dicukupin saja, lauk untuk makan ngirit. Biasanya, lauk pakai pindang, tahu atau tempe. Kebutuhan beras per hari itu, 1 kilo,” terang Widiadi dengan wajah tertunduk.

Kendati begitu, terdapat kebutuhan yang mengganjal, yakni pampers. Widiadi kembali menuturkan, terkadang ketar-ketir mencukupi kebutuhan pampers tersebut.

“Semuanya (adik dan kedua orangtua) kan terbaring sakit, jadi semuanya pakai pampers ukuran M supaya tidak buang air besar (BAB) dan kencing di kasur. Per hari biasanya habis 3 pcs pampers, namun jika tidak punya uang, meme saja pakai pampers. Meme itu sakit ambeien, kalau habis makan apapun langsung keluar. Sementara adik dan bapak, dipakaikan pampers malam hari saja. Siangnya pakai celana, kalau kencing langsung saya cuci,” terangnya.

Baca Juga:  Kasus Bunuh Diri di Gianyar Terus Bertambah

Sejatinya, Widiadi ingin mendapatkan layanan kesehatan untuk kedua orangtuanya sedang sakit. Namun, keinginannya itu terganjal jarak tempuh.

“Pakai ongkos kendaraan berobat kami tidak punya. Apalagi bapak dan meme kan sudah tua, tidak mungkin dibonceng sepeda motor, terlebih harus meninggalkan adik. BPJS kami punya. Kalau berobatnya itu ke Puskesmas di Kloncing. Ya, jauh,” tuturnya.

Baca Juga:  Sanjaya Apresiasi Kerjasama Pimpinan dan Dewan Mewujudkan Pembangunan Tabanan


Sementara, Kepala Dusun (Kadus) Mayungan mengungkapkan, terdapat 16 Kepala Keluarga (KK) dari total 98 KK masuk kategori masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Mayungan memiliki kasus stunting 1 orang yakni Ayu Komang Sumeli (16) memiliki berat hanya 15 kilogram yang juga alami disabilitas serupa dengan I Ketut Padma.

Khusus di keluarga Widiadi, sejatinya pihak Pemerintah Desa (PemDes)Sudaji telah berulangkali mengajukan bantuan rehab atau bedah rumah kepada pemerintah daerah.

“Kami (PemDes Sudaji) tetap memperjuangkan lewat MusDes (Musyawarah Desa) data DTKS agar mendapatkan realisasi rumah layak huni. Sementara ini, pemerintah daerah baru merealisasikan satu kamar berukuran 2×1 untuk Padma yang alami kelumpuhan. Sedangkan bantuan rumah layak huni untuk keluarga Widiadi belum. Kami gotong royong terus perjuangkan keluarga Widiadi agar mendapatkan uluran bantuan baik dari pemerintah atau swasta,” singkatnya. (ard/kb)

Berita Terkait

Back to top button