GianyarNews UpdatePeristiwaSosial

Gelombang Tinggi! Nelayan Gianyar Nekat Melaut Demi Dapur Tetap Ngebul

    GIANYAR, Kilasbali.com – Kendati cuaca tak bersahabat, namun beberapa nelayan di Gianyar nekat melaut. Hal itu terpaksa dilakukan agar dapur tetap ngebul.

    Seperti halnya nelayan di Pantai Lebih yang nekat melaut kendatipun hasilnya pas-pasan.

    Menyiasati gelombang tinggi yang terjadi sejak sepekan terakhir, para nelayan itu melaut dengan mengambil waktu dini hari.

    Ketua Kelompok Nelayan Pantai Lebih, I Made Ana mengeatakan gelombang tinggi terjadi mulai meninggi dari pukul 10.00 Wita sampai sore.

    Untuk itu, nelayan di Pantai Lebih memanfaatkan waktu melaut dini hari. “Nelayan melaut dini hari, dari pukul 04.00 dini hari sampai pukul 08.00 pagi,” jelas Hermanto, Senin (28/8).

    Baca Juga:  Koalisi Penantang PDIP di Pilkada Tabanan Masih Tarik Ulur

    Nelayan menghindari melaut melebihi 300 jarak meter dari bibir pantai.

    “Ini gelombang tidak menentu, mungkin gejala elnino. Tetap kami imbau agar tidak melaut tidak lebih dari 300 meter dari bibir pantai,” ujarnya.

    Karena melaut hanya di pinggiran dan beberapa nelayan dengan menebar jaring kecil, maka ikan yang didapat hanya ikan kecil-kecil, sejenis lemuru.

    “Pendapatan nelayan tidak signifikan, namun bisa memenuhi kebutuhan dapur,” tuturnya.

    Dalam kondisi ini, sebutnya, hanya beberapa nelayan yang beraktivitas. Karena saat gelombamg tinggi, ikan-ikan sudah pada turun ke dasar laut, sehingga ikan sangat sedikit muncul di permukaan.

    Baca Juga:  Alokasi Pupuk Subsidi ke Petani Tabanan Kembali Meningkat

    “Kalau sungai bawa lumpur ke laut, maka ikan-ikan muncul ke permukaan. Ini debit sungai mengecil, dan ikan jarang muncul ke permukaan. Kondisi ini menyebabkan jarang nelayan turun melaut. Kalau pun melaut, tidak akan menutup dengan harga BBM,” tuturnya

    Bila kondisi gelombang sedang, tangkapan ikan lemuru atau ikan kucing sekitar 25 kg, maka hasil tangkapan itu baru sebatas menutup modal pembelian BBM.

    Baca Juga:  Tujuh Hari Menghilang, Nenek Padit Ditemukan Tak Bernyawa di Dasar Jurang

    “Idealnya tangkapan di atas 40 kg, baru mendapatkan keuntungan. Kalau 25 kg, hanya menutupi biaya BBM dan tenaga melaut belum terbayarkan,” paparnya.

    Lanjutnya, setiap kali melaut membutuhkan BBM jenis pertalite sekitar 10 liter atau dengan modal awal Rp 100 ribu.

    Menyiasati itu, sebagian nelayan sudah beralih ke pekerjaan lain, menjadi tukang bangunan, memelihara ternak dan ada yang mencoba peruntungan bertani ikan Lele.

    “Syukur juga ada alternatif pekerjaan lain, sehingga dapur bisa ngebul terus,” tandasnya. (ina/kb)

    Back to top button