Sempat Debat Kusir, Kusuma Ardana Ancam Lapor Penyerobotan Lapangan Bungkulan

Buleleng News Update
Kegiatan pembersihan dan penataan lapangan Desa Bungkulan

SINGARAJA, Kilasbali.com — I Ketut Kusuma Ardana  menghentikan aktivitas kebersihan yang dilakukan sejumlah tokoh masyarakat bersama Tim Penyelamat Aset Desa (TPAD) Desa Bungkulan di lapangan umum Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng-Bali, Kamis (5/5).

Kusuma Ardana menjabat Perbekel Desa Bungkulan saat ditemui tak menampik sempat debat kusir di lapangan Bungkulan dengan sejumlah tokoh desa beserta Ketua Tim TPAD Putu Kembar Budana.

“Hentikan dulu aktivitas kebersihan dengan alat berat. Lapangan Bungkulan ini kan masih sengketa dan saat ini sedang dalam proses di BPN Buleleng. Jika dilanjutkan, kami laporkan penyerobotan,” tegas Kusuma Ardana.

Baca Juga:  Antisipasi Virus PMK, Peternak Optimis Harga Babi Stabil

Kusuma Ardana mengklaim tanah di lapangan Bungkulan merupakan milik orangtua almarhum Gede Armani. Praktis, keluarga sebagai ahli warisnya. Meski begitu, Kusuma Ardana menyatakan pihak keluarga selalu membuka pintu jika masyarakat memang membutuhkan lapangan tersebut.

Perbekel Desa Bungkulan I Ketut Kusuma Ardana

“Nah, yang kami (keluarga) tekankan disini etikanya. Ada aktivitas pembersihan, namun tidak ada komunikasi kepada keluarga ataupun kedinasan. Kan dua versi, selaku Perbekel, saya tidak mendapat pemberitahuan baik lisan atau tertulis. Nah, dari sisi pribadi, terang pihak keluarga keberatan karena tanah lapangan Bungkulan milik mendiang. Kami punya alas hak berdasalkan pipil,” terangnya.

Ketua TPAD Putu Kembar Budana mengakui tidak melakukan komunikasi ataupun melayangkan surat terkait aksi kebersihan di lapangan Bungkulan kepada pihak Pemerintah Desa Bungkulan.

Baca Juga:  Oknum ASN Terjerat Narkoba Diberhentikan Sementara

“Ini (aksi pembersihan) sifatnya bentuk keprihatinan dan kepedulian. Kami tidak melakukan pengerusakan, malah kami melakukan pembersihan dan penataan agar lapangan ini tidak terlantar. Kalau sudah bersih, kan bisa kembali digunakan oleh anak-anak. Soal tidak adanya pemberitahuan, jika disampaikan pun, prediksi kami bakal ditolak. Terlebih, lapangan ini kan fasilitas umum bukan milik pribadi,” ungkapnya.

Baca Juga:  Wahana Edukasi Alam dan Tumbuhan Langka Kesiman Petilan

Sementara itu, Ketut Sumardhana selaku tokoh masyarakat Desa Bungkulan meminta pembersihan dilanjutkan. Bukan tanpa alasan, pembersihan merupakan aksi ngayah ke desa sebagai bentuk kepedulian dengan cara merawat atau memelihara fasilitas umum salah satunya lapangan umum Desa Bungkulan.

“Lanjutkan saja, kita ngayah kok dilaporkan. Kita siap ladeni, ini negara hukum,” pungkasnya. (ard/kb)