Gianyar

Seimbangkan Alam, Roh Gentayangan Masa Lampau Disucikan

    GIANYAR, Kilasbali.com – Dari awal peradaban wilayah, kisah peperangan hingga menimbulkan korban kerap menjadi cacatan secara temurun. Demikian halnya catatan sejarah kewilayahan Beng, yakni Kelurahan Beng.

    Di masa kerajaan I Dewa Anom tersebut peperangan yang banyak makan korban. Mengembalikan keseimbangan alam, roh para korban yang diyakini masih gentayangan pun disucikan dalam upacara Taur Nawa Gempang Butha Slurik, Senin (6/3).

    Prosesi digelar di Pasraman Taman Prakerthi Bhuana (TPB) Kelurahan Beng, yang dihadiri berbagai tokoh-tokoh penting di Pemerintah Kabupaten Gianyar dan nasional.

    Mulai dari Bupati Gianyar, Made Mahayastra, Kapolres Gianyar, AKBP Bayu Sutha Sartana, Dandim Gianyar, Letkol Inf Eka Wira hingga Stafsus Presiden RI, AA GN Ari Dwipayana. Upacara ini dipimpin olah banyak sulinggih.

    Bendesa Desa Adat Beng, Dewa Putu Oka menjelaskan kondisi Beng pada masa kerajaan. Kata dia, berdasarkan cerita beberapa penglingsir Desa Adat Beng, bahwa dulu sekitar tahun 1450an sudah ada penguasa wilayah Alas Bengkel (sekarang Beng) yang bernama I Dewa Anom.

    Beliau memiliki istri bernama Gusti Ayu Pahang. Awalnya penduduk yang tinggal di sini sedikit. Namun lama kelamaan menjadi ramai. Merekapun hidup makmur dengan menanam tanaman pangan.

    Baca Juga:  Mobil Oleng, Seruduk Warung, Empat Orang Terluka

    Ramainya penduduk di Alas Bengkel ini pun menjadi perhatian Raja Buleleng, Gusti Panji Sakti. Karena penasaran, Panji Sakti pun mengutus inteligennya untuk mencari tahu tentang Alas Bengkel. Setelah diselidiki ternyata memang benar bahwa Alas Bengkel sudah rame penduduknya dan ada kepala desa yang bernama I Dewa Anom.

    Mendengar laporan dari utusannya, Raja Buleleng pun tertarik untuk menguasai wilayah ini. Lalu dikirimlah pasukan untuk mengganggu dan menyerang Desa Alas Bengkel. I Dewa Anom melakukan perlawanan.

    Pertempuaran sengit antara pasukan I Dewa Anom melawan pasukan gajahnya¬† Gusti Panji Sakti terjadi dan banyak menimbulkan korban jiwa yang tidak sempat diupacarai oleh penguasa saat itu, sehingga roh-roh yang tidak diupacarai tersebut menjadi pengganggu (Bhutacuil) dan gentayangan di wilayah sekitar tempat peperangan tersebut terjadi, di wilayah Jero Kuta yang merupakan pusat pemerintahan Desa Alas Bengkel. “Sekarang adalah kawasan Subak Ambengan, Subak Lombok, Subak Dudus, dan Subak Kacang Bedol di kelurahan Beng,” ujarnya.

    Baca Juga:  Bule Kemah di Pantai Saat Nyepi Ternyata Kehabisan Bekal

    Pihaknya pun berterima kasih pada Ida Bagus Mangku Adi Suparta selaku pemilik TPB, karena telah menggelar upacara ini. Upacara ini sesuai dengan petunjuk sastra Lontar Yoga Segara Bumi, Lontar Gong Wesi, Lontar Lebur Sangse.

    “Disertai dengan keinginan yang tulus dari Ida Bagus Aji (Suparta), sehingga dilaksanakan upacara ini dengan tujuan menyucikan sahe melebur sarwa letuh ring Buana Alit lan Buana Agung yang diakibatkan oleh adanya korban peperangan yang belum diupacarai 1 (diabenkan) dari jaman dulu dan kemungkinan juga adanya korban meninggal ulah pati, meninggal salah pati di bekas yang merupakan wilayah pusat pemerintahan I DewaAnom,” ujarnya.

    Baca Juga:  Kesbangpol Bali Berbagi

    Bupati Gianyar, Made Mahayastra mengucapkan terima kasih atas upacara yang digelar oleh Ida Bagus Mangku Adi Suparta, karena telah membantu pemerintah dalam menggelar upacara ini. “Saya sebagai Bupati, salut sama beliau. Karena rela dan ikhlas secara pribadi menggelar upacara yang membutuhkan dana hampir Rp 1 miliar. Tentu pemerintah sangat terbantu oleh ketulusan beliau dalam menjaga kesucian wilayah,” ujar Mahayastra. (ina/kb)

    Berita Terkait

    Back to top button