Gianyar

Waspada Bakteri Ecoli, Air Komsumsi Wajib Dimasak

    GIANYAR, Kilasbali.com – Dari banyaknya potensi penyakit yang menyembul di musim kemarau panjang ini, diare juga membayangi. Apalagi bakteri ecoli cendrung meningkat di sumber-sumber air yang dikonsumsi masyarakat. Antisipasinya, air konsumsi wajib dimasak.

    Kepala Dinas Kesehatan Gianyar, Ni Nyoman Ariyuni, Minggu (15/10) mengatakan, selain ISPA diare juga menjadi penyakit yang biasanya menyerang di musim kemarau.

    Udara yang semakin kering, debu yang meningkat, serta banyaknya lalat menyebabkan lingkungan menjadi tidak sehat memperbesar resiko terkontaminasinya air dengan bakteri ecoli.

    Diare merupakan gangguan pada sistem pencernaan yang ditandai dengan buang air besar dengan konsistensi tinja encer secara terus menerus.

    Baca Juga:  Liburan Idul Adha, Polres Gianyar Perketat Pengamanan Obyek Wisata

    Pada musim kemarau kondisi air berbeda dengan musim hujan. Pada musim hujan, air lebih banyak dan mengalir, sedangkan pada musim kemarau, ketersediaan air menurun, air tidak mengalir dan konsentrasi kuman lebih meningkat.

    Saat ini dalam pengawasan air bersih untuk masyarakat, kualitas air minum yang dikelola oleh lembaga SPT PDAM, Pamsimas, dan perpipaan dilakukan pengawasan eksternal setiap bulan, hasil pengawasan tersebut kita rekomendasikan ke lembaga pengelola air minum.

    “Untuk masyarakat yang masih mengakses air dari mata air bersama promkes dilakukan edukasi ke Masyarakat untuk mengkonsumsi air yang telah dimasak,” ujar Ariyuni.

    Baca Juga:  Sukses Prabowo-Gibran, Gerindra Serius Rebut Tiket Perubahan Gianyar

    Sumber air masyarakat Gianyar khususnya di pedesaan untuk kebutuhan sehari-hari kebanyakan dari mata air di sungai dan air PDAM.

    “Meningkatnya konsentrasi kuman pada air maka semakin tinggi pula paparan kuman ke tubuh. Hal ini menyebabkan kejadian diare menjadi lebih tinggi dibandingkan pada musim hujan, ini harus diwaspadai,” jelasnya.

    Tak hanya itu, berkurangnya curah hujan pada musim kemarau menyebabkan tempat-tempat yang terdapat genangan air tidak tersapu oleh air hujan sehingga tempat tersebut menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.

    Baca Juga:  Menang di Pengadilan, Sertifikasi Lahan Terganjal Adat?

    “Menurut jurnal yang dibaca, katanya nyamuk akan menjadi lebih ganas, ini juga patut kita waspadai dengan melaksanakan 3M,” pungkasnya. (*)

    Back to top button