Buleleng

Teknologi Wolbachia Dinilai Manjur Tekan Kasus Demam Berdarah di Bali

SINGARAJA, Kilasbali.com — Anggota Komisi IX DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana, SP meminta Pemerintah Provinsi (Pemprop) Bali menerapkan Teknologi Wolbachia menekan lonjakan kasus demam berdarah (DB). Pun, politisi PDI-Perjuangan asal Desa Busungbiu, Kabupaten Buleleng itu, mendapat angin segar dari Gubernur Bali Wayan Koster saat audensi membahas penerapan Teknologi Wolbachia tersebut.

Kariyasa menilai, teknologi Wolbachia akan mampu menekan lonjakan kasus DB di Bali. Ia menyebut, teknologi Wolbachia merupakan hasil riset atau penelitian yang dilakukan World Mosquito Program (WMP) bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dan yayasan Tahija.

“Nah, hasilnya sangatlah manjur dan efektif. Pilot projeknya sudah dibuktikan di Kota Yogyakarta. Dimana angka kasus  turun drastis 77,1 persen. Praktis, turunnya angka kasus ini, berimbas ke medis, efesiensi perawatan RS lebih irit 86,2 persen,” ungkap Kariyasa saat sosialisasi cegah stunting di Desa Sekumpul, Kecamatan Sawan, Buleleng, Rabu (24/8) sore.

Baca Juga:  Senderan Ambrol Ancam Pemukiman

Imbuh Kariyasa, teknologi Wolbachia telah dikemas menjadi sebuah aplikasi bernama Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED).

“Begini, penyebab DB itu kan virus dengue. Nah, virus dengue inilah yang dieliminasi dengan terapan teknologi Wolbachia tentunya ramah lingkungan. Ya, karena nyamuk mengandung bakteri Wolbachia akan menetralisir virus dengue. Istilahnya nyamuk itu dikawinkan dan melahirkan nyamuk baru yang tidak membawa virus dengue. Kalau pola pencegahan DB dengan fogging dan jumantik itu tetap dilaksanakan,” terangnya.

Kabupaten Buleleng dan Kota Denpasar sebut Kariyasa akan jadi prioritas menekan kasus DB menerapkan teknologi Wolbachia itu.

Baca Juga:  Screening Pra Nikah, Cegah Stunting

“Data tahun 2020, kabupaten/kota di Bali dengan angka kasus tertinggi yakni Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Badung. Data per tanggal 30 November 2020 terdapat lima (5) kabupaten/kota dengan kasus DBD tertinggi Nasional, tiga di antaranya berada di Bali, yakni Buleleng 3.313 orang, Badung 2.547 orang, serta Gianyar 1.717,” jelasnya.

Ketika ditanya soal rancangan anggaran, Kariyasa menyebut akan dibiayai oleh pusat.

“Tidak akan menyedot APBD Pemprop Bali atau APBD Kabupaten/Kota. Ini akan dibiayai pusat. Saya mengapresiasi Kementerian Kesehatan RI yang  mendukung perluasan ini. Rencananya, akan dilakukan dalam 4 tahap dimulai tahap pertama di Kota Denpasar dan Kabupaten Buleleng. Saya juga mengapresiasi Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kota Denpasar dan Pemerintah Kabupaten Buleleng yang secara penuh mendukung perluasan ini terutama untuk tahap 1,” kata Kariyasa.

Baca Juga:  Hari Kontrasepsi Sedunia, BKKBN Bali Gelar Pelayanan KB Gratis

Kariyasa berharap, pendekatan baru penanganan Demam Berdarah di Bali menggunakan teknologi Wolbachia ini, yang bekerjasama dengan World Mosquito Program (WMP) dapat mewujudkan Bali bebas dengue sehingga Bali bisa bangkit lebih maju secara ekonomi dan lebih sehat masyarakatnya. (ard/kb)

Berita Terkait

Back to top button