Artis dan Musisi Pramusti Bali Gebrak Generasi Milenial

Denpasar Hiburan
Foto: Penampilan Group Band XXX saat menghibur Festival Bali Jani.

DENPASAR, Kilasbali.com – Persatuan artis, Musisi, Pencipta Lagu dan Insan Seni (Pramusti) Bali tampil menghibur pengunjung Festival Seni Bali Jani. Para musisi, mulai musisi yang lawas hingga musisi masa kini, masing-masing memiliki cara tuk mengupas tema festival Hulu-Teben. “Kami, para artis Bali memang serius tampil dalam ajang Festival Seni Bali Jani ini,” kata Ketua Pramusti Bali IGN ‘Rahman’ Murthana disela-sela penampilannya, Minggu (3/11/2019).

Para artis Bali yang ikut memggebrak Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya Provinsi Bali itu, diantaranya Ketut Bimbo yang sedang sakit namun niatnya untuk tampil cukup besar, ada Ayu Saraswati, Deama, dan Rah Two {XXX}. Jika dihitung detail ada Total 50 musisi Bali yang tampil memeriahkan festival yang mengedepankan kekinian ini,” paparnya.

Walau demikian, para musisi Bali di masa kini juga unjuk kebolehan membawakan lagu – lagu andalanya. Hal itu, seakan menegaskan bahwa para musisi ini menyesesuaikan dengan tema Bali Jani Hulu-Teben, Dialektika global – teben. “Para artis ini menampilkan lagu – lagu Bali yamg tetap berkontribusi memajukan budaya di masa mendatang,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan Ayu Saraswati, dimana ajang Bali Jani sebagai media ruang kreatif kontemporer menempatkan seni di Bali dalam dua pagelaran besar, yaitu pesta kesenian bali (PKB) yang khusus menampilkan tradisi dan Bali Jani menyajikan kesenian modern. “Kami menyambut baik kegiatan Bali Jani, sebagai ruang kreatif berkesenian untuk ranah seni modern,” kata Ayu yang membawakan lagu-lagunya yang treend ditahun 1997.

Para musisi lain yang juga tampil dalam ajang festival yang digelar Pemerintah Provindi Bali, diantaranya, Mang Gita, Panji Kuning, D Antoni, Trio Kirani, 3G angel, Nanoe Biroe, Eka jaya dan Margi, Trsina STE, ayu Wirastuti, Yasa Sega, anggi, Dewi Pradewi, Agung Wiradana, De Alot, Eka Badeng. Selain para musisi pop, konser musik kali ini juga dimeriahkan oleh seniman pelawak ada MKP Bali, Ayu Petong, Sampik, Jibo, Kumis .

Perjalanan musik Bali tatkala lagu “Merah Putih” ciptaan Gede Darna tercatat sebagai cikal bakal “lagu Bali populer”. Pasca Gede Darna, muncul Wedasmara dan AA Made Cakra yang mulai menanamkan benih-benih lagu pop Bali dengan gaya masing-masing di akhir tahun 60-an. Jika Wedasmara kemudian lebih banyak berkarya di Ibukota, AA Made Cakra kemudian membentuk band Putra Dewata, dan menjadi pionir kemana lagu pop berbahasa Bali, di bawah bendera Bali Record.

Cukup lama Putra Dewata “nyaris tiada tanding”, hingga awal 80-an mulai muncul musisi dan penyanyi baru yang banyak mengadopsi musik pop modern ke dalam ranah lagu berbahasa Bali, mulai dari Nonok, Tut Bimbo, Yan Bero, hingga Yong Sagita dan Alit Adiari. Saat inilah, babak baru rekaman lagu pop berbahasa Bali dimulai, dan mencatat sukses jika dilihat baik dari respons penampilan di TVRI, penjualan rekaman dalam format pita kaset, hingga panggung pertunjukan. Hingga awal 90-an, era pop Bali makin kuat denga munculnya penyanyi seperti Widi Widiana, Panji Kuning, Sri Dianawati, Bayu KW, dan lainnya.

“Revolusi” di blantika rekaman lagu berbahasa Bali terjadi awal 2000-an, ketika mulai muncul grup band yang menyanyikan lagu berbahasa Bali dengan memainkan musik bernuansa rock, RnB, rap, reggae hingga blues. Tak hanya memperluas pangsa pasar lagu berbahasa Bali ke anak muda, namun juga mendorong munculnya banyak band-band baru yang rekaman lagu Bali. Nama-nama yang kiat mewarnai di era ini seperti Lolot, Joni Agung & Double T, Nanoe Biroe, XXX, 4WD, Bintang dan lainnya. Musik pop Bali, dulu dan kini, selalu lekat di hati penggemarnya. Sekalipun pada masa tertentu sempat meredup, namun tetap hidup dan diam-diam berkembang sesuai jamannya. (jus/kb)